Rwanda dan Uganda teken perjanjian akhiri permusuhan

Dua negara berkomitmen untuk segera melanjutkan kegiatan lintas batas

Rwanda dan Uganda teken perjanjian akhiri permusuhan

KIGALI, Rwanda

Presiden Rwanda Paul Kagame dan Presiden Uganda Yoweri Museveni pada Rabu menandatangani sebuah Nota Kesepahaman (MoU) yang bertujuan untuk mengakhiri ketegangan antara kedua negara dan memulai kembali kegiatan lintas-perbatasan.

Hubungan antara kedua negara memburuk dalam beberapa bulan terakhir menyusul berbagai tuduhan serta kontra tuduhan spionase dan campur tangan politik.

Pada puncak ketegangan awal tahun ini, Rwanda tiba-tiba memblokir truk kargo dari Uganda untuk memasuki wilayahnya di perbatasan bersama mereka di Gatuna, mengatakan bahwa itu dilakukan karena adanya pekerjaan konstruksi di perbatasan.

Rwanda juga melarang warganya untuk menyeberang ke Uganda karena tuduhan penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan terhadap mereka.

Klaim tersebut kemudian dibantah oleh Uganda.

Penandatanganan MoU di ibu kota Angola, Luanda, dilakukan setelah pertemuan puncak empat negara antara Angola, Republik Demokratik Kongo, Uganda dan Rwanda pada 12 Juli.

“Para pihak berjanji untuk segera memulai kembali kegiatan lintas batas antara kedua negara termasuk perpindahan orang dan barang, untuk pengembangan dan peningkatan kehidupan populasi mereka,” bunyi MoU itu.

Kedua negara berkomitmen untuk mempromosikan semangat pan-Afrikaisme dan integrasi regional, kerja sama yang komprehensif di bidang politik, keamanan, pertahanan, perdagangan dan pertukaran budaya serta investasi berdasarkan saling melengkapi dan sinergi.

Mereka juga berkomitmen untuk menahan diri dari tindakan yang kondusif untuk destabilisasi atau subversi di wilayah pihak lain dan negara-negara tetangga sehingga menghilangkan semua faktor yang dapat menciptakan persepsi tersebut serta tindakan seperti pendanaan, pelatihan dan infiltrasi kekuatan destabilisasi.

Penandatanganan disaksikan oleh Presiden Joao Lourenco dari Angola dan Felix Tshisekedi dari Republik Demokratik Kongo.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA