Polisi selidiki “aktor intelektual” kerusuhan Papua, Papua Barat

Juru bicara Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan pihak yang mendesain kerusuhan ini menginginkan agar isu Papua menjadi perhatian dunia internasional

Polisi selidiki “aktor intelektual” kerusuhan Papua, Papua Barat

Polisi tengah menyelidiki “aktor intelektual” di balik kerusuhan di Papua dan Papua Barat.

Juru bicara Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo mengatakan pihak yang mendesain kerusuhan ini menginginkan agar isu Papua menjadi perhatian dunia internasional, dalam sidang Dewan HAM PBB di Jenewa pada awal September ini, serta sidang umum PBB di New York.

Sebelumnya pemerintah menuding ada keterlibatan "pihak asing" dalam situasi Papua. Pemerintah juga menuding pemimpin organisasi pro-kemerdekaan Papua, United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Benny Wenda terkait dengan kerusuhan.

“Agenda setting itu lah yang akan mereka desain memunculkan isu-isu Papua, isu tentang HAM, isu kerusuhan, isu rasisme, itu diangkat kelompok tersebut meski dalam agenda tersebut enggak ada agenda tentang itu,” kata Dedi di Jakarta, Jumat.

Polisi menegaskan akan mengungkap kasus kerusuhan ini secara tuntas. Polri menuding “aktor intelektual” ini juga memiliki agenda hingga 1 Desember yang merupakan peringatan hari ulang tahun Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka.

“Itu harus betul-betul diantisipasi aparat keamanan, pemerintah daerah dan tokoh-tokoh masyarakat secara komprehensif. Kalai tidak, agendanya akan terus digulirkan oleh kelompok mereka,” jelas Dedi.

Dedi mengatakan masa tugas personel tambahan akan sangat bergantung pada dinamika situasi ke depannya, termasuk untuk mengantisipasi apa yang oleh dia disebut sebagai agenda dari aktor yang mendesain kerusuhan.

Polisi telah mengirimkan 13 kompi pasukan ke Papua Barat dan 30 kompi pasukan ke Papua sebagai respons atas situasi di wilayah paling timur Indonesia itu.

Untuk saat ini Dedi mengatakan situasi di Papua dan Papua Barat telah kondusif.

Gelombang unjuk rasa terjadi di sejumlah daerah di Papua sebagai respons atas pengepungan dan tindakan rasialis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur.

Sejumlah unjuk rasa berujung ricuh. Polisi mencatat ada empat orang tewas akibat kerusuhan di Jayapura dan tiga orang tewas akibat kerusuhan di Deiyai.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA