Polisi lumpuhkan pimpinan kelompok bersenjata di Aceh

Abu Razak bergabung dengan kelompok bersenjata api pimpinan Din Minimi yang juga mantan anggota GAM

Polisi lumpuhkan pimpinan kelompok bersenjata di Aceh

Kepolisian Daerah Aceh melumpuhkan kelompok bersenjata pimpinan Abu Razak mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Kede Trienggading, Pidie Jaya, Aceh pada Kamis.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Ery Apriyono mengatakan sebelum dilumpuhkan, tim kepolisian dan kelompok bersenjata tersebut sempat melakukan kontak tembak selama 30 menit pada pada 19 September 2019 di jalan Banda Aceh Medan tepatnya di Kede Trienggading, Pidie Jaya.

"Kelompok bersenjata disergap tim Polda Aceh setelah melakukan pengejaran beberapa hari berdasarkan informasi adanya kelompok yang bergerak keluar dari Bukit Cerana, Simpang Mamplam, Bireuen, yang akan melaju ke arah Banda Aceh," jelas Ery kepada Anadolu Agency melalui pesan singkat.

Setelah kontak tembak itu kata Ery, polisi menemukan ada lima orang anggota kelompok bersenjata di tempat kejadian, empat di antaranya tewas dan satu orang kritis.

"Yang tewas termasuk di antaranya pimpinan kelompok bersenjata Abu Razak," jelas dia.

Kepolisian kata dia juga berhasil mengamankan dua senjata yakni satu pucuk AK 56 lipat, satu pucuk revolver, dan dua magazen serta peluru lebih kurang 100 butir.

Berdasarkan catatan kepolisian, Abu Razak bergabung dengan GAM pada 1999 di wilayah Batee Iliek Kabupaten Bireuen dengan peran sebagai spesialis untuk memperbaiki senjata api.

Sementara pada 2005 pasca perdamaian antara Indonesia dengan GAM, Abu Razak sempat bekerja sebagai petani tambak dan berbaur dengan masyarakat.

Namun pada 2008, Abu Razak melakukan tindak pidana pengancaman menggunakan senjata api kepada warga negara asing (WNA) untuk tidak melakukan aktivitas penambangan di Meulaboh Kabupaten Aceh Barat.

"Abu Razak berhasil diamankan oleh aparat serta telah menjalani hukuman penjara dengan vonis satu tahun 6 bulan di LP Salemba, Jakarta Pusat akibat kasus itu," tambah Ery.

Selesai menjalani hukuman, Abu Razak tidak memiliki pekerjaan tetap pada 2010.

Lima tahun kemudian pada pada 20 Maret 2015, Abu Razak bergabung dengan kelompok bersenjata api pimpinan Din Minimi yang juga mantan anggota GAM.

Kepolisian pun sempat menangkap kembali Abu Razak pada 10 April 2015 di Kabupaten Bireun dan divonis lima tahun enam bulan penjara.

"Dia menjalani hukuman di LP Klas II A Lhokseumawe," jelas dia.

Pada 2017, Abu Razak melarikan diri dan ditetapkan sebagai buron atau Daftar Pencarian Orang (DPO).

Abu Razak muncul kembali pada 12 September 2019, saat melakukan pencurian dengan kekerasan di Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen. 

Sampai akhirnya tewas ditembak polisi.

Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia melakukan perjanjian damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005.

Perjanjian Helsinki mengakhiri konflik antara Aceh dengan Indonesia yang berlangsung selama hampir 30 tahun sejak 1976.

Butir-butir kesepahaman ini kemudian dituangkan dalam UU No 11/2006 tentang Pemerintah Aceh.

Dalam perjanjian tersebut Aceh memiliki wewenang untuk menjalankan semua sektor publiknya. Namun, untuk urusan hubungan luar negeri, pertahanan, urusan fiskal, dan urusan hukum masih jadi wewenang Indonesia.

Sementara mantan anggota GAM mendapatkan kompensasi dari pemerintah Indonesia sekaligus berintegrasi dengan masyakakat di bawah Indonesia.

Anggota GAM juga sudah menghancurkan senjata mereka.

Selain itu kedua pihak juga menyetujui bahwa bila ada penggunaan senjata di Aceh, pelakunya akan dianggap kriminal bukan lagi anggota GAM

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA