GCC desak PBB untuk tekan Houthi tinggalkan Hudaydah

Pemerintah Yaman mengumumkan tidak akan akan berpartisipasi dalam perundingan damai selanjutnya sampai Houthi mematuhi perjanjian Stockholm

GCC desak PBB untuk tekan Houthi tinggalkan Hudaydah

RIYADH

Sekretaris Jenderal Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) meminta utusan PBB untuk Yaman untuk berperan "lebih aktif" dalam membujuk pemberontak Houthi menarik diri dari kota pelabuhan strategis Al-Hudaydah di Yaman.

Ketua dewan Abdel-Latif al-Zayani bertemu Martin Griffiths pada Selasa di Riyadh, Arab Saudi, untuk membahas perkembangan politik, keamanan, dan kemanusiaan di Yaman.

Berdasarkan pernyataan resmi GCC, al-Zayani menekankan perlunya peningkatan upaya PBB untuk memaksa Houthi mematuhi gencatan senjata - yang disepakati bulan lalu di Stockholm - dan menarik diri dari Al-Hudaydah.

Dia juga menyerukan upaya internasional yang lebih besar untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke penduduk Yaman yang menderita dampak perang.

Pada akhir Desember, Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi yang disponsori Inggris yang menyetujui penempatan tim PBB di sana untuk memantau gencatan senjata.

Kemudian pada Selasa, pemerintah Yaman mengumumkan tidak akan akan berpartisipasi dalam perundingan damai selanjutnya sampai Houthi mematuhi perjanjian Stockholm.

Dalam sebuah pertemuan di Riyadh, Menteri Luar Negeri Yaman Khaled al-Yemany juga mendesak para duta besar dari Kelompok 18 (G18) untuk memainkan peran yang lebih besar dalam menekan Houthi untuk mematuhi resolusi internasional dan perjanjian Stockholm, yang secara resmi mulai berlaku pada 13 Desember.

Menlu Yaman menuding Houthi melanggar gencatan senjata, bahkan memanfaatkan gencatan senjata untuk mengkonsolidasikan posisi militer mereka.

Para duta besar menanggapi dengan menggambarkan perjanjian Stockholm sebagai "satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian di Yaman dan memulihkan keamanan di sana".

Yaman masih dirundung kekerasan sejak tahun 2014, ketika pemberontak Houthi menguasai sebagian besar wilayah negara itu, termasuk ibu kota, Sanaa.

Tahun berikutnya, Arab Saudi dan sekutunya melancarkan kampanye udara besar-besaran di Yaman yang bertujuan mengalahkan Houthi dan membantu pemerintah Yaman yang pro-Saudi.

Konflik berkepanjangan itu telah menghancurkan banyak infrastruktur dasar Yaman, termasuk sistem kesehatan dan sanitasi, sehingga PBB menyebut situasi di sana sebagai "salah satu bencana kemanusiaan terburuk di zaman modern".

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA