Zakat bisa jadi solusi kemiskinan global

Zakat seharusnya dapat menjadi modal strategis bagi dunia Islam melepaskan diri dari ketergantungan jangka panjang dari negara-negara barat yang juga mempraktekkan kolonialisme gaya baru

Zakat bisa jadi solusi kemiskinan global

JAKARTA

Pengelola zakat di dunia diharapkan untuk menguatkan kerja sama mewujudkan kesejahteraan umat di tengah situasi kemiskinan yang melanda negara-negara muslim, ujar Sekretaris Jenderal Forum Zakat Dunia (World Zakat Forum/WZF) Bambang Sudibyo di Jakarta Kamis.  

Upaya penguatan kerja sama ini akan dibahas dalam WZF International Conference 2018 di Melaka, Malaysia pada 5-6 Desember 2018.

Menurut Bambang, gerakan zakat global dapat mengambil peran penting dalam pengentasan kemiskinan dengan mendistribusikan bantuan bagi mereka yang kurang mampu baik secara finansial maupun non-finansial. 

"Dunia Islam akhir-akhir ini menghadapi masalah kompleks serta tantangan yang datang dari internal dan eksternal,” ungkap Bambang dalam konferensi pers. 

Masalah dan tantangan umat Islam saat ini menurut Bambang, seperti stigma dan stereotip negatif yang memungkinkan muslim menjadi korban diskriminasi dan tekanan.

“Dari internal, di antara sesama muslim banyak yang minim kepedulian kepada muslim yang kurang mampu," kata dia.

Menurut Bambang yang juga Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ini, kemiskinan banyak ditemui di negara-negara muslim, sehingga melemahkan posisinya di tingkat dunia. Hal ini diperburuk dengan keterbelakangan di sektor pendidikan, sains dan teknologi, serta kapasitas sumber daya manusia yang lebih lemah.

Sebagai jawaban berbagai masalah tersebut, zakat seharusnya dapat menjadi modal strategis bagi dunia Islam melepaskan diri dari ketergantungan jangka panjang dari negara-negara barat yang juga mempraktekkan kolonialisme gaya baru.

“Kebangkitan dunia muslim harus dimulai dari keberhasilan menyelesaikan masalah umat secara mandiri,” tegas dia.

Kemandirian dunia muslim jelas Bambang, dapat dilakukan dengan cara memperkuat peran zakat sebagai senjata sosial-ekonomi umat.  

“Penggunaan zakat harus memiliki arti strategis untuk memperkuat ukhuwah (persaudaraan), kolaborasi, dan solidaritas di antara bangsa-bangsa muslim untuk mencapai tujuan bersama.”

Selain itu, gerakan zakat global ungkap Bambang, juga dapat mendukung pengembangan aspek dasar manusia, seperti sektor kesehatan dan pendidikan.

Selain masalah tersebut, konferensi WZF juga akan membahas berbagai tema seperti kerangka peraturan dan kelembagaan zakat,  zakat dan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), penilaian dan pengukuran sistem zakat, serta masalah fiqih-zakat kontemporer dan kerja sama zakat antarnegara.

Pertemuan tersebut nantinya akan dihadiri oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional RI Bambang Brodjonegoro dan Menteri Agama Malaysia Mujahid Yusof Rawa, serta 31 pembicara dari 16 negara seperti Inggris, India, Nigeria, Bosnia-Herzegovina dan Afrika Selatan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA