Utang luar negeri Indonesia pada triwulan I USD387,6 miliar, tumbuh 7,9%

Utang tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD190,5 miliar, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar USD197,1 miliar

Utang luar negeri Indonesia pada triwulan I USD387,6 miliar, tumbuh 7,9%

JAKARTA

Bank Indonesia mengumumkan jumlah utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan I 2019 berjumlah USD387,6 miliar.

Utang tersebut terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD190,5 miliar serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar USD197,1 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan ULN Indonesia tersebut tumbuh 7,9 persen year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya.

Onny menjelaskan peningkatan ULN tersebut karena transaksi penarikan neto ULN dan pengaruh penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sehingga utang dalam rupiah tercatat lebih tinggi dalam denominasi dolar AS.

“Peningkatan pertumbuhan ULN terutama bersumber dari ULN sektor swasta, di tengah relatif stabilnya pertumbuhan ULN pemerintah,” ungkap dia, dalam keterangan resmi, Jumat.

Dia menambahkan pertumbuhan ULN pemerintah relatif stabil pada triwulan I 2019. Hingga akhir triwulan I 2019, ULN pemerintah tercatat USD187,7 miliar dolar AS atau tumbuh 3,6 persen (yoy), relatif stabil dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 3,3 persen (yoy).

Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan arus masuk dana investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik dan penurunan outstanding SBN dalam valuta asing sejalan dengan pelunasan global bonds yang jatuh tempo pada bulan Maret 2019.

“Hal ini menunjukkan kepercayaan investor asing yang tinggi terhadap prospek perekonomian Indonesia,” kata Onny.

Menurut Onny, pengelolaan ULN pemerintah diprioritaskan untuk membiayai pembangunan, dengan porsi terbesar pada beberapa sektor yaitu sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (18,8 persen dari total ULN pemerintah), sektor konstruksi (16,3 persen), sektor jasa pendidikan (15,7 persen), sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (15,1 persen), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (14,4 persen).

Sementara itu, ULN swasta pada triwulan I 2019 mengalami peningkatan. Posisi ULN swasta pada akhir triwulan I 2019 tumbuh 12,8 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 11,3 persen (yoy).

ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.

“Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 75,2 persen,” jelas dia.

BI memastikan struktur ULN Indonesia tetap sehat. Kondisi tersebut tercermin antara lain dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir triwulan I 2019 yang relatif stabil sebesar 36,9 persen.

Selain itu, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang yang memiliki porsi sebesar 86,1 persen dari total ULN.

“Dengan perkembangan tersebut, meskipun ULN Indonesia mengalami peningkatan, namun masih terkendali dengan struktur yang tetap sehat,” imbuh Onny.

Bank Indonesia dan pemerintah terus berkoordinasi untuk memantau perkembangan ULN dan mengoptimalkan perannya dalam mendukung pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA