Situasi Nduga belum membaik sejak penembakan pekerja Trans Papua

Ribuan warga Nduga mengungsi dari kampung-kampung mereka sejak operasi pengejaran TNI-Polri terhadap kelompok Egianus Kogoya

Situasi Nduga belum membaik sejak penembakan pekerja Trans Papua

JAKARTA 

Tim Kemanusiaan Kabupaten Nduga Papua mengatakan situasi di wilayah tersebut belum membaik sejak terjadinya pembantaian terhadap pekerja Trans Papua oleh kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya.

Esmon Walilo, salah satu anggota tim sekaligus Koordinator Gereja Kingmi di Papua mengatakan ada ribuan warga yang mengungsi sejak 2 Desember 2018.

Mereka mengungsi ke sejumlah wilayah seperti Wamena dan Lanny Jaya sejak operasi pengejaran TNI-Polri terhadap kelompok Egianus Kogoya.

TNI-Polri kini berada di kampung-kampung mereka dan mendirikan pos sebagai bagian dari operasi pengejaran Egianus Kogoya.

“Akibatnya banyak pengungsi internal, dalam satu rumah atau honai bisa berisi 30-50 orang, bahkan ada yang berisi hingga ratusan orang,” tutur Esmon di Jakarta, Rabu.

Sejumlah fasilitas publik seperti sekolah, puskesmas dan rumah ibadah di Nduga telah rusak atau dibakar.

Petugas kesehatan, guru, dan relawan juga tidak berani masuk ke wilayah Nduga karena situasi keamanan yang tidak kondusif.

Menurut Tim Kemanusiaan, sebanyak 637 anak usia SD hingga SMA dan 81 guru juga mengungsi dan belajar di sebuah sekolah darurat di Wamena.

“Mereka mengalami kendala belajar dan harus difasilitasi untuk mengikuti ujian nasional,” kata Esmon.

Para pengungsi juga menderita sejumlah penyakit seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA), anemia, diare, dan disentri akibat situasi di tempat penampungan yang tidak layak.

Kementerian Sosial pada Juli lalu menyalurkan bantuan untuk para pengungsi dari Nduga, namun para pengungsi justru menolak menerima bantuan tersebut.

Menurut Esmon, para pengungsi tidak terima bantuan tersebut disalurkan menggunakan fasilitas milik aparat TNI-Polri.

“Hal tersebut menyebabkan pengungsi sangat marah dan tidak menerima bantuan tersebut,” ujar Esmon.

“Para pengungsi menginginkan bantuan sosial harus melibatkan gereja, LSM dan melalui tim relawan yang tidak melibatkan aparat TNI-Polri,” lanjut dia.

Selain itu menurut catatan mereka, sebanyak 182 warga sipil meninggal sejak 2 Desember 2018. Sebagian besar akibat sakit saat menyelamatkan diri dari kampung, juga karena menjadi korban kekerasan fisik.

Menurut dia, warga ingin segera kembali ke kampung mereka dengan syarat pasukan TNI-Polri ditarik dari wilayah tersebut.

“Kami ingin bagaimana orang-orang ini dipulangkan supaya bisa membangun kampung kembali. Kalau tidak ada kekerasan, lalu kenapa mereka lari dari Nduga?” tutur Esmon.

Konflik di Nduga bermula dari kasus penembakan yang menewaskan 19 orang pekerja proyek Trans Papua pada 2 Desember 2018.

Kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

Sejak saat itu tim gabungan TNI-Polri menggelar operasi pengejaran terhadap Egianus Kogoya di wilayah Nduga dan sekitarnya.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA