Ratusan pengungsi unjuk rasa tuntut solusi pasti dari UNHCR

Para pengungsi menuntut UNHCR memberi tempat penampungan yang layak dan segera memastikan nasib resettlement mereka

Ratusan pengungsi unjuk rasa tuntut solusi pasti dari UNHCR

Sekitar 460 pengungsi menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Komisioner Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR) di Jakarta pada Kamis.

Para pengungsi yang sebagian besar berasal dari Afghanistan ini berangkat dari Kalideres, Jakarta Barat pada Kamis siang.

Di antara mereka ada perempuan dan anak-anak yang meneriakkan “justice, justice”. Sebagian lainnya menggelar tikar dan berdiam di badan trotoar.

Mereka menuntut UNHCR memenuhi hak para pengungsi untuk mendapat tempat penampungan yang layak mencakup kebutuhan dasar seperti makanan, air dan listrik.

“Kami datang ke sini untuk menuntut hak-hak kami. UNHCR seharusnya menyediakan shelter untuk kami,” ujar salah seorang pengungsi asal Afghanistan, Hassan Ramazan saat ditemui, Kamis.

Pria berusia 41 tahun ini telah hampir empat tahun di Indonesia. Dia kini kehabisan uang setelah kerabatnya tidak lagi sanggup mengirimi uang.

Hassan meninggalkan rumahnya di Ghazni, Afghanistan karena lelah menghadapi konflik yang tidak kunjung berakhir.

Untuk jangka panjang, mereka mendesak UNHCR bisa segera memastikan penempatan mereka di negara mana pun untuk memulai hidup baru.

“Ada yang sudah diproses bertahun-tahun, bahkan lebih dari empat tahun tapi belum mendapat kepastian,” kata dia.

Tiga bulan lalu, para pengungsi ini juga pernah mendiami trotoar Kebon Sirih sebagai wujud protes terhadap UNHCR atas ketidakpastian nasib resettlement mereka di negara tujuan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kemudian memindahkan mereka ke sebuah gedung bekas di Kalideres, Jakarta Barat pada pertengahan Juli.

Pemprov juga menyediakan makanan, air minum, toilet, listrik dan fasilitas kesehatan untuk para pengungsi selama 40 hari.

Namun bantuan untuk para pengungsi dihentikan pada 31 Agustus lalu. Sebagian besar pengungsi memilih bertahan di gedung bekas itu meski tanpa bantuan makanan, air dan listrik.

Menurut Hassan, situasi itu memicu mereka menggelar aksi di UNHCR hari ini.

Hassan menegaskan mereka tidak akan kembali ke Kalideres jika tidak ada respons atau solusi dari UNHCR terkait nasib mereka.

“Kami akan tetap di sini sampai mereka merespons permintaan kami,” tegas Hassan.

Sebelumnya, para pengungsi telah diminta meninggalkan gedung dengan bantuan sekitar Rp1 juta hingga Rp1,6 juta - tergantung jumlah anggota keluarga - dari UNHCR.

Sebagian menerima tawaran itu, namun sebagian lainnya memilih bertahan karena merasa uang itu tidak cukup untuk menghidupi mereka.

Mereka yang menolak berharap UNHCR bisa menyediakan tempat penampungan sementara yang layak bagi mereka.

“Di antara kami ada ibu hamil dan bayi yang harus hidup tidak layak, tanpa kebutuhan dasar,” ucap dia.

Berdasarkan data UNHCR, terdapat sekitar 14 ribu pengungsi yang terdaftar di Indonesia, 29 persen di antaranya adalah anak-anak. Sebanyak 55 persen pengungsi datang dari Afghanistan, 11 persen dari Somalia, dan 6 persen dari Myanmar.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA