Presiden dorong penyelesaian defisit transaksi berjalan dan neraca dagang dalam 4 tahun

Presiden Jokowi menilai ekonomi Indonesia sudah terlalu bergantung dengan ekspor bahan mentah sehingga rawan terpengaruh dengan harga komoditas dunia

Presiden dorong penyelesaian defisit transaksi berjalan dan neraca dagang dalam 4 tahun

Presiden Joko Widodo mendorong agar defisit transaksi berjalan maupun defisit neraca perdagangan yang menjadi masalah selama satu dekade terakhir dapat selesai dalam 4 tahun ke depan.

Presiden yang akrab disapa Jokowi tersebut mengatakan pemerintah sedang melakukan beberapa upaya untuk memperbaiki defisit tersebut yang tak kunjung selesai.

“Tetapi saya meyakini dengan transformasi ekonomi yang kita kerjakan, saya yakin kita bisa selesaikan ini dalam kurun waktu 3 tahun, maksimal 4 tahun,” ujar Presiden di Jakarta, Kamis.

Presiden menjelaskan kesulitan Indonesia menyelesaikan dua defisit tersebut adalah karena ekonomi Indonesia sudah terlalu bergantung dengan ekspor bahan mentah sehingga rawan terpengaruh dengan harga komoditas dunia.

Selain itu, Indonesia juga masih bergantung dengan impor migas dan juga impor bahan baku dan modal.

“Tidak masalah (impor) asal menjadi hal produktif di ekonomi kita sehingga memengaruhi defisit transaksi berjalan, volatilitas rupiah, dan pertumbuhan ekonomi,” kelas dia.

Oleh karena itu, Presiden mengatakan bahwa Indonesia memiliki agenda besar untuk meningkatkan ekspor dan produksi barang-barang substitusi impor.

Dia menegaskan bahwa untuk meningkatkan ekspor dan substitusi impor hanya dapat dilakukan melalui hilirisasi industri.

“Kita tidak mau lagi ekspor barang mentah keluar, sayang. Nikel kita stop dan harus dijadikan barang-barang setengah jadi atau barang jadi,” imbuh Presiden.

Dia menilai dengan hilirisasi nikel ini akan membuat produk ini memiliki nilai tambah yang besar apabila diekspor dalam bentuk barang setengah jadi atau barang jadi.

Presiden menginginkan dalam 2-3 tahun ke depan produk turunan nikel bisa berbentuk baterai litium dan menjadi strategi bisnis negara yang sedang dirancang agar Indonesia menjadi pusat besar bagi industri mobil listrik.

“Kita punya nikel, kobalt, mangan, dan bahan baku lain yang bisa dipakai oleh industri dalam membangun baterai litium,” kata dia.

Presiden mengatakan sudah meminta para menterinya mendekati industri besar mobil di Jepang dan Jerman untuk mengembangkan baterai litium.

Lebih lanjut Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa telah meminta Kepala BKPM Bahlil Lahadalia untuk menarik devisa sebanyak-banyaknya melalui investasi langsung atau FDI.

Pengumpulan devisa juga terus diupayakan melalui pengembangan pariwisata.

“Tugas besar dari BKPM adalah menarik FDI yang tidak mudah karena semua negara sekarang ini berbondong-bondong ingin menarik FDI masuk ke negara masing-masing,” jelas Presiden.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA