Polri-TNI siagakan 6 ribu personel pasca-kerusuhan Wamena

Polri menyatakan penempatan personel tetap diperlukan untuk mencegah potensi kerusuhan meski situasi di Wamena telah berangsur normal kembali

Polri-TNI siagakan 6 ribu personel pasca-kerusuhan Wamena

Sebanyak 6.000 personal Polri dan TNI masih bersiaga di Wamena, Papua pasca-kerusuhan yang terjadi pada Senin, 23 September 2019.

Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Asep Adi Saputra mengatakan penempatan personel tetap diperlukan untuk mencegah potensi kerusuhan meski situasi di Wamena telah berangsur normal kembali.

Personel Polri dan TNI, kata dia, akan menjamin situasi keamanan dan mencegah potensi kerusuhan lain.

“Kita masih menduga dan mendeteksi akan ada upaya untuk menciptakan kerusuhan selanjutnya,” kata Asep di Jakarta, Senin.

Menurut Asep, sentra-sentra ekonomi di Wamena saat ini telah beraktivitas kembali, masyarakat telah hilir mudik di tempat-tempat umum, dan sekolah dari TK hingga SMA telah beraktivitas.

“Secara keseluruhan kondisi di Wamena sudah normal kembali,” kata dia.

Polisi menduga kerusuhan di Wamena didalangi oleh tiga kelompok pro-kemerdekaan Papua, yakni Komite Nasional Papua Barat (KNPB), United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), serta kelompok bersenjata Papua.

Polisi sejauh ini telah menetapkan 13 tersangka kerusuhan, namun tidak satu pun dijerat dengan pasal pembunuhan meski 33 orang tewas dalam peristiwa itu.

Kerusuhan juga menyebabkan ribuan orang mengungsi dari Wamena. Ada yang mengungsi ke Jayapura, kembali ke kampung halaman, atau menempati kantor polisi dan Kodim setempat.

Kerusuhan di Wamena dipicu oleh hoaks terkait perkataan rasial dari seorang guru terhadap muridnya.

Menurut polisi, informasi itu menyebutkan ada seorang guru yang memanggil siswanya dengan kata “kera”. Sementara versi lain mengatakan yang diucapkan oleh guru tersebut adalah kata “keras”, bukan “kera”.

Namun informasi itu terlanjut menyebar dan memprovokasi kelompok pelajar SMA di Wamena. Massa kemudian bertambah besar dan mulai melakukan perusakan hingga pembakaran fasilitas serta ruko warga.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA