Polisi tetapkan 13 tersangka kerusuhan Wamena, Papua

Sepuluh tersangka telah ditahan, sedangkan tiga orang lainnya masih berstatus buron

Polisi tetapkan 13 tersangka kerusuhan Wamena, Papua

Polisi telah menetapkan 13 orang tersangka kerusuhan di Wamena, Papua.

Kerusuhan yang terjadi pada 23 September 2019 itu menyebabkan 33 orang tewas, 76 orang terluka, dan ribuan orang lainnya mengungsi.

“Sepuluh orang di antaranya sudah ditahan, tiga orang lagi masih berstatus DPO (daftar pencarian orang),” ujar Kepala Bagian Penerangan Masyarakat Polri Komisaris Besar Asep Adi Saputra di Jakarta, Senin.

Kesepuluh tersangka tersebut yakni DM (19), RW (18), AU (16), RA (16), AK (19), DC (32), YP (22), ES (27), NT (27) dan SK (40).

Beberapa di antaranya masih berstatus sebagai pelajar yang ditangkap saat merusak fasilitas umum.

Sementara tiga orang buronan berinisial YA, P dan MH diduga sebagai provokator dan terkait dengan organisasi pro-kemerdekaan Papua yakni Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Asep mengatakan para tersangka dijerat dengan pasal 160 KUHP karena menghasut orang-orang untuk melakukan kerusuhan, pasal 170 KUHP karena melakukan kekerasan, serta pasal 187 KUHP karena membakar berbagai fasilitas publik.

Belum ada tersangka yang dijerat menggunakan pasal pembunuhan atas tewasnya 33 orang dalam peristiwa itu.

“Bukan berarti kita tidak menyasar siapa yang melakukan aksi sampai menyebabkan korban meninggal. Pasal 170 KUHP juga bisa digunakan jika (kekerasan) sampai menimbulkan korban meninggal,” tutur dia.

Polisi menyita barang bukti berupa 34 batu yang digunakan untuk menyerang, satu unit motor yang terbakar, serta rekaman video kejadian.

Kerusuhan di Wamena dipicu oleh hoaks terkait perkataan rasial dari seorang guru terhadap muridnya.

Menurut polisi, informasi itu menyebutkan ada seorang guru yang memanggil siswanya dengan kata “kera”. Sementara versi lain mengatakan yang diucapkan oleh guru tersebut adalah kata “keras”, bukan “kera”.

Namun informasi itu terlanjur menyebar dan memprovokasi kelompok pelajar SMA di Wamena. Massa kemudian bertambah besar dan mulai melakukan perusakan hingga pembakaran fasilitas serta ruko warga.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA