Polisi: Penusukan Wiranto dipicu penangkapan pimpinan JAD Bekasi

“Ketika Abu Zee tertangkap, Abu Rara bilang ke penyidik dia stres dan khawatir sebentar lagi ditangkap,” ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo

Polisi: Penusukan Wiranto dipicu penangkapan pimpinan JAD Bekasi

Abu Rara merupakan simpatisan kelompok JAD, kelompok teror yang berafiliasi dengan Daesh.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal Dedi Prasetyo menuturkan Abu Zee merupakan sosok yang menikahkan Abu Rara dengan isterinya, Fitri Andriana.

Namun Densus 88 menangkap Abu Zee bersama pada September lalu karena merencanakan aksi teror dan telah menyiapkan sejumlah bom.

“Ketika Abu Zee tertangkap, Abu Rara bilang ke penyidik dia stres dan khawatir sebentar lagi ditangkap,” kata Dedi dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Penangkapan Abu Zee memicu niat Abu Rara menyerang pihak-pihak yang dianggap sebagai "thogut" dan menunggu momentum yang tepat.

Dia kemudian mendengar kabar kunjungan pejabat publik ke Menes, Pandeglang menggunakan helikopter. Menurut Dedi, Abu Rara sebetulnya tidak mengetahui siapa pejabat yang datang.

“Dia tidak tahu siapa yang datang, yang jelas dia bilang ke istrinya akan menyerang orang yang turun dari helikopter,” jelas Dedi.

Abu Rara kemudian memerintahkan Fitri untuk menyerang polisi.

Empat orang terluka akibat penyerangan tersebut yakni Wiranto; Kapolsek Menes Kompol Daryanto, pimpinan Universitas Mathalul Anwar, Haji Fuad; serta seorang ajudan Danrem setempat.

Penusukan terjadi ketika Wiranto turun dari mobil dan hendak naik helikopter untuk kembali menuju Jakarta pada Kamis siang. Abu Rara dan isterinya ketika itu berdiri di antara sejumlah warga yang hendak bersalaman dengan Wiranto.

Hingga saat ini, Wiranto masih menjalani perawatan di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat karena mengalami dua luka tusuk di bagian perut.

Polri menyatakan akan mengevaluasi pengamanan pejabat publik berdasarkan insiden ini. Menurut dia, pengamanan terhadap Wiranto dalam kunjungan tersebut telah sesuai standar operasional prosedur (SOP).

"Tidak mungkin membatasi pejabat publik ketika akan berinteraksi dengan masyarakat, selama ini biasa bersalaman. Tapi itu nanti kita evaluasi," ujar Dedi.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA