Polisi: Massa bayaran sebabkan kericuhan dalam demonstrasi Rabu pagi

Polisi menemukan amplop berisi uang dan satu ambulans berlogo partai politik berisi batu di dalam aksi demontrasi

Polisi: Massa bayaran sebabkan kericuhan dalam demonstrasi  Rabu pagi

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menyatakan massa yang terlibat kericuhan dalam aksi demonstrasi pada Selasa malam hingga Rabu pagi merupakan massa bayaran.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal M. Iqbal menuturkan polisi menemukan sejumlah bukti dan indikasi terkait hal tersebut.

“Peristiwa dini hari tadi bukan massa spontan, tapi by design, peristiwa settingan,” ujar Iqbal, dalam konferensi pers di Jakarta, pada Rabu.

Menurut dia, mayoritas massa berasal dari luar Jakarta seperti Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah.

Polisi menemukan amplop berisi uang dan satu ambulans berlogo partai politik berisi batu dari gerombolan orang tersebut.

“Ada satu ambulans, ada logo partainya, penuh batu dan alat-alat, massa juga menyimpan amplop serta uang, dan sudah kami sita,” lanjut Iqbal.

Beberapa Polda sebelumnya juga telah menggeledah berbagai kelompok yang ingin ke Jakarta untuk bergabung dengan massa aksi dan menemukan mereka membawa bom molotov.

Iqbal menjelaskan kronologi peristiwa kericuhan. Menurut Iqbal, kericuhan dan bentrokan justru bermula setelah massa aksi demonstrasi yang menolak hasil Pemilu 2019 telah membubarkan diri.

Namun pada Selasa malam sekitar pukul 23.00 WIB, ada massa yang berusaha merusak security barrier dan memprovokasi aparat keamanan.

Polri berusaha menghalau massa dan mendorong massa hingga ke wilayah Jalan Wahid Hasyim serta Jalan Sabang, namun massa menyerang petugas menggunakan batu, bom molotov dan petasan.

Polda Metro Jaya telah mengamankan 58 orang yang diduga sebagai provokator.

Setelah massa tersebut terurai, sekitar 200 orang massa berkumpul di Jalan KS Tubun, Jakarta Barat pada pukul 03.00 WIB.

Polisi dibantu oleh para pengurus Front Pembela Islam (FPI) berupaya bernegosiasi dengan massa.

“Seperti biasa kami melakukan himbauan dan pendekatan. Kapolres Jakarta Barat dibantu tokoh masyarakat, pemuka FPI, karena di situ markas FPI,” jelas Iqbal.

Namun, massa kemudian menyerang Asrama Brimob Polri di wilayah tersebut, membakar 14 unit mobil, dan merusak 11 unit kendaraan lainnya.

Polisi akhirnya menghalau massa menggunakan gas air mata dan mengamankan 11 orang yang diduga sebagai provokator.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA