Polisi: Kivlan Zein dan Habil Marati terlibat rencana pembunuhan tokoh

Kivlan memberi perintah kepada eksekutor untuk membunuh lima orang target, sedangkan Habil memberikan uang operasional

Polisi: Kivlan Zein dan Habil Marati terlibat rencana pembunuhan tokoh

JAKARTA 

Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengungkapkan, mantan Kepala Staf Kostrad Mayjen Purnawirawan Kivlan Zein dan politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Habil Marati berada di balik rencana pembunuhan empat tokoh nasional dan pimpinan salah satu lembaga survei.

Keempat tokoh yang menjadi target yakni Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala BIN Jenderal Budi Gunawan, dan Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan Gories Mere.

Polisi telah menetapkan Kivlan Zein dan Habil Marati sebagai tersangka pada akhir Mei 2019.

Penetapan keduanya sebagai tersangka merupakan hasil pengembangan dari pemeriksaan enam orang tersangka yang lebih dulu ditangkap.

“Mereka bermufakat jahat untuk melakukan pembunuhan berencana untuk membunuh 4 tokoh dan satu direktur lembaga survei,” ujar Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya AKBP Ade Ary Syam Indradi, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Menurut Ade, Kivlan memerintahkan tersangka HK alias Iwan dan AZ mencari eksekutor untuk membunuh para tokoh tersebut.

Kivlan juga memberikan uang Rp150 juta kepada Iwan untuk membeli senjata. Ade melanjutkan, uang Rp150 juta itu diduga berasal dari Habil Marati untuk melaksanakan rencana ini.

Keterangan itu diperkuat oleh pengakuan Iwan, bahwa dia dan tersangka Tajudin bertemu di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Maret lalu.

Iwan merupakan leader sekaligus eksekutor yang ditangkap polisi pada 21 Mei lalu.

Tajudin mengaku mendapat perintah untuk mengeksekusi keempat tokoh tersebut.

“Saya diberi uang tunai total Rp55 juta dari Pak KZ melalui Iwan kemudian rencana penembakan menggunakan senjata laras panjang kaliber amunisi 22 dan senjata pendek,” kata Tajudin.

Pada April 2019, beberapa hari setelah pemilu digelar, Kivlan juga bertemu dengan tersangka IR, AZ -yang juga merupakan sopir Kivlan, serta Y -yang masih buron- di kawasan Masjid Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Berdasarkan pengakuan IR, Kivlan memerintahkan dia untuk mengintai rumah Direktur Eksekutif Charta Politika, Yunarto.

“Beliau bilang nanti saya kasih uang operasional Rp5 juta untuk bensin, makan, dan uang kendaraan. Kalau nanti ada yang bisa eksekusi nanti saya jamin anak-istrinya liburan kemana pun,” jelas IR.

Polisi juga menemukan bukti rekaman CCTV pertemuan Kivlan dengan IR, AZ, dan Y di Masjid Pondok Indah.

Menurut Ade Ary, IR dan Y telah melakukan survei ke rumah Yunarto sebanyak dua kali.

Dia juga mengungkapkan keterlibatan Habil Marati sebagai pemberi dana dalam kasus ini.

Selain memberi uang Rp150 juta kepada Kivlan, Habil juga menyerahkan langsung uang Rp60 juta kepada Iwan untuk biaya operasional dan membeli senjata api.

Polisi menangkap Habil di rumahnya pada Rabu, 29 Mei dengan barang bukti ponsel dan print out dari rekening bank miliknya.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA