Pemerintah kembali tarik utang karena penerimaan tertekan

Sisi pembiayaan akan disesuaikan dengan langkah-langkah yang mendukung keberlangsungan APBN 2019 dan transisi 2020 secara baik

Pemerintah kembali tarik utang karena penerimaan tertekan

Kementerian Keuangan menarik utang baru melalui Global Bond untuk menutup defisit anggaran dalam APBN karena penerimaan negara tertekan akibat kondisi global.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan ada tekanan terus menerus pada permintaan ekspor Indonesia dan dari sisi investasi juga mengalami pertumbuhan di bawah harapan, yakni dari 7 persen menjadi sekitar 5 persen.

“Sehingga kita harus terus kerja agar permintaan ekspor tidak terlalu terdampak oleh pelemahan lingkungan ekonomi global,” kata Menteri Sri Mulyani, di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, dari sisi pembiayaan akan disesuaikan dengan langkah-langkah yang mendukung keberlangsungan APBN 2019 dan transisi 2020 secara baik.

Menteri Sri Mulyani mengatakan penerbitan utang akan selalu mencari waktu yang tepat, harga terbaik, dan imbal hasil yang kompetitif sehingga dalam pendanaan dan pengelolaan APBN selalu bisa disampaikan secara transparan dan kepercayaan yang terjaga keberlangsungannya.

Dia mengatakan kondisi ekonomi Indonesia tidak terlepas dari pengaruh global sehingga berdasarkan pantauannya, penerimaan pajak dari seluruh kantor wilayah perpajakan mengalami tekanan.

Menteri Sri Mulyani menambahkan tekanan ekonomi global memengaruhi pembayaran pajak yang bersifat massal dan reguler sehingga menjadi indikasi yang perlu diwaspadai.

“Kita perlu meningkatkan dukungan ke ekonomi kita sehingga jangan sampai penerimaan diakselerasi atau diperkecil, tetapi bisa lebih dinetralisir melalui kebijakan, instrumen, serta sumberdaya yang ada,” jelas Sri Mulyani.

Dia menjelaskan, dalam APBN 2019 ditargetkan defisit anggara sebesar 1,84 persen, namun dengan kondisi ekonomi yang tertekan, defisit bisa melebar tanpa menimbulkan masalah kepercayaan terhadap instrumen APBN.

“APBN merupakan instrumen countercyclical dan kalau ekonomi lemah, kita harusnya menggunakan instrumen itu untuk meminimalkan dampak pelemahan itu,” lanjut dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA