Pelajar Indonesia gandeng Turki bangun desa tertinggal

Ada lima sektor pemberdayaan yang mereka lakukan bersama Kemenpora Turki, yakni pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial budaya, dan pariwisata

Pelajar Indonesia gandeng Turki bangun desa tertinggal

Mahasiswa Indonesia bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga Turki melakukan pemberdayaan masyarakat di Desa Mekarmanik, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Kegiatan ini merupakan program kerja tahunan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Bursa, Turki yang bertujuan memberdayakan desa-desa tertinggal di tanah air.

Ketua PPI Bursa Usamah Taqiyuddin mengatakan Desa Mekarmanik dipilih karena tergolong desa tertinggal dengan rata-rata penghasilan Rp600.000 ke bawah.

Usamah mengatakan lembaganya menggandeng Kemenpora Turki yang memiliki program pemberdayaan desa-desa atau Damla Pröjesi.

“Ini merupakan bentuk pengabdian kami dan para pemuda di Turki bagi desa tertinggal,” terang dia kepada Anadolu Agency di Jakarta pada Selasa.

Menurut Usamah, ada lima sektor pemberdayaan yang mereka lakukan bersama Kemenpora Turki, yakni pendidikan, ekonomi, kesehatan, sosial budaya, dan pariwisata.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga menanam 120 bibit pohon durian, yang1 0 persen hasil panennya akan dialokasikan untuk beasiswa anak berprestasi dan kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan di Banten.

PPI Bursa, kata Usamah, juga membangun sistem pengairan dan membangun sumur bor air satelit untuk mengatasi kelangkaan air bersih.

“Persoalan air kerap menjadi masalah ketika musim kemarau,” jelas Usamah.

Pada pekan ini, PPI Bursa juga mengalokasikan dana untuk pembangunan fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Usamah menambahkan total dana bantuan untuk pembangunan di Desa Mekarmanik sebesar Rp42 juta.

“Bahagia rasanya para warga desa kehadiran para mahasiswa Indonesia dari Turki dan warga negara Turki yang menjadi orang asing pertama hadir di Desa Mekarmanik dengan melakukan pemberdayaan desa bersama-sama,” terang dia.

Sementara Founder International Damla Association Erol Öztamur menyampaikan kegiatan menjadi salah satu solusi masalah desa-desa tertinggal Indonesia dan jembatan aspirasi dengan pemerintah daerah.

“Kegiatan ini juga diharapkan bisa mengikat hubungan diplomasi Indonesia dan Turki menjadi lebih erat,” jelas Öztamur.

.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA