Lead time produksi tekstil buatan Indonesia terlalu panjang

Lamanya lead time tersebut membuat daya saing produk TPT lokal berkurang sehingga pasarnya sangat rawan untuk diambil alih oleh tekstil impor

Lead time produksi tekstil buatan Indonesia terlalu panjang

Lead time di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia terlalu panjang sehingga kalah bersaing dengan produk tekstil dari luar negeri.

Lead time adalah rentang waktu dari datangnya order yang dipesan hingga sampai ke tangan konsumen.

CEO Busana Apparel Group Marimutu Maniwanen mengatakan rata-rata lead time produksi tekstil dan produk tekstil buatan Indonesia membutuhkan waktu 120 hari, terutama untuk produk jadi.

Dia menilai masa produksi tersebut terlalu lama jika dibandingkan dengan lead time produk fast fashion yang butuh 60 hari.

Menurut dia, industri fast fashion saat ini sedang tumbuh dan berkembang di berbagai negara pesaing Indonesia seperti China, Vietnam, Bangladesh, dan Sri Lanka.

“Panjangnya lead time kita karena bahan baku kita mayoritas impor dan paling cepat lead time butuh 90 hari,” jelas dia dalam diskusi di Jakarta, Senin.

Lamanya lead time tersebut menurut Maniwanen membuat daya saing produk TPT lokal berkurang sehingga pasarnya sangat rawan untuk diambil alih oleh produk dari negara lain, ditambah lagi dengan tumbuh pesatnya e-commerce yang dapat memangkas waktu dari produsen ke konsumen.

Oleh karena itu, dia mendorong agar industri hulu tekstil di dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan bahan baku untuk mensubstitusi impor sehingga daya saing industri TPT di dalam negeri bisa membaik.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengatakan potensi pasar tekstil dan produk tekstil di Indonesia mendekati USD28 miliar.

Namun, potensi pasar domestik pertekstilan saat ini telah dikuasai oleh produk impor yang berarti produk tekstil lokal dianggap memiliki daya saing yang rendah.

“Suka atau tidak suka, kita harus akui industri kita tidak berdaya saing,” ungkap Ade.

Menurut dia, produk tekstil impor khususnya asal China bisa menjual dengan harga yang lebih murah dari produksi lokal.

“Mereka bisa jual lebih murah dan jadi champion di pasar karena efisien, tidak hanya pabriknya, tetapi juga pemerintahnya,” jelas dia.

Sementara proses produksi di pabrik dalam negeri begitupun dengan aturan pemerintah di Indonesia menurut Ade, belum efisien sehingga babak belur di pasar domestik.

Ade menambahkan dari sisi geografi untuk pasar global, lokasi Indonesia sangat jauh ke Eropa ataupun Amerika Serikat sehingga pasar global juga lebih banyak mengambil produksi Vietnam, Banglades, dan bahkan Ethiopia.

“Lamanya lead time itu kita harus lebih pendek dari mereka yang artinya supplier lokal dengan garmen ekspor harus well connected,” lanjut dia.

Dia mengatakan selama ini garmen dengan pemasok lokal tidak terhubung dengan baik, begitupun dengan pemerintah yang hanya memiliki fasilitas kemudahan impor untuk tujuan ekspor, bukan kemudahan produksi lokal untuk tujuan ekspor.

“Itu harus ddifikirkan biar well connected juga dengan sisi pemerintah,” tambah Ade.

Ade menambahkan penyebab produk TPT lokal kalah dalam daya saing adalah karena pola pikir pengusaha Indonesia yang tidak mau memikirkan ekspor karena merasa sudah kalah di pasar domestik.

“Kalau mindset begitu, ya susah bahwa dia lebih senang lokal daripada ekspor, maka mindsetnya akan selalu meminta-minta perlindungan dari pemerintah,” ungkap Ade.

Oleh karena itu, Ade mendorong agar di dalam suatu perusahaan selalu ada porsi produksi antara pasar lokal dan untuk kebutuhan ekspor.

“Besar kecil porsinya bisa disesuaikan supaya mindsetnya ekspor, akan jadi champion. Masih banyak peluang untuk perbanyak ekspor kita, tinggal bagaimana speed up ke depan lagi,” urai Ade.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA