Keluarga Evertin Mofu di Papua masih mencari keadilan

Evertin Mofu menjadi korban dalam konflik horisontal di Jayapura, Papua

Keluarga Evertin Mofu di Papua masih mencari keadilan

Tangis Martinah Mofu pecah ketika peti mati putih berisikan jenazah adik bungsunya itu, Evertin Mofu, 35, memasuki halaman rumah, pada Rabu, 4 September.

Evert, begitu almarhum biasa dipanggil, adalah satu dari empat korban yang tewas dan ditemukan tak jauh dari Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Papua di Kota Jayapura, Jumat, 30 September.

Evert menjadi korban dalam kerusuhan memprotes lontaran bernada rasial terhadap orang Papua di Surabaya, Jawa Timur. Demontrasi yang berujung rusuh itu terjadi di sejumlah wilayah di Papua dan Papua Barat.

Dalam kerusuhan tersebut mengemuka konflik horizontal antara warga lokal dan pendatang di Jayapura, isu sosial yang telah menjadi laten di Papua dan hingga kini belum diselesaikan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan tokoh adat Papua.

Sehari setelah demonstrasi berujung penjarahan dan pembakaran toko, rumah, juga gedung pemerintah, sejumlah pemilik bangunan yang dibakar massa berkumpul pada 30 September. Mereka membalas aksi itu dengan merazia warga Papua yang lewat.

Hingga kini belum jelas siapa pelaku pembunuhan Evert, juga ketiga korban tewas lainnya. Polisi masih menyelidikinya.

Evert pergi tak kembali

Melianus Mofu, kakak kandung Evert, menuturkan jika pemuda yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pelabuhan itu turut berjaga mengamankan kampung mereka di Klofkamp, Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, pada malam setelah demonstrasi terjadi.

Esoknya, lanjut Melianus, Evert pamit hendak berangkat ke tempatnya bekerja, untuk membersihkan rumah majikan yang turut dibakar massa.

Jumat malam, sebuah siaran radio mengabarkan soal temuan mayat yang kemudian diboyong ke Rumah Sakit Bhayangkara.

Melianus mengecek seluruh anggota keluarga satu persatu. Semua lengkap, kecuali Evert.

Salah satu keluarga mendatangi RS Bhayangkara di Abepura, dan mendapati wajah Evert berada di antara foto mayat yang terpampang.

“Evert anak yang baik, dia tidak [berlaku] aneh-aneh, tidak pernah mengganggu orang,” kenang Melianus kepada Anadolu Agency di Jayapura, beberapa waktu lalu.

Perlu lima hari bagi keluarga Mofu untuk memperoleh kembali jenazah Evert. “Proses pengurusannya rumit, pihak rumah sakit mengatakan masih menunggu hasil penyidikan dan otopsi oleh pihak berwajib,” ungkap Melianus, menjelaskan proses pengurusan jenazah di RS Bhayangkara.

Jenazah Evert baru sampai di rumah duka pada Rabu, diantara ambulans dengan iringan personel polisi dan tentara.

Saat mengecek isi peti mati putih itu, Melianus mendapati Evert menjadi korban kekerasan di kepala dan di tubuhnya.

Sebelumnya, selama sepekan demonstrasi meledak di sejumlah wilayah di provinsi paling timur Indonesia itu.

Pada 19 Agustus, demontrasi pertama kali pecah di Manokwari, Papua Barat, berujung dengan pembakaran Kantor DPRD Papua Barat, dan perusakan toko serta hotel.

Di hari yang sama, demonstrasi terjadi pula di Jayapura, Provinsi Papua, yang melumpuhkan aktivitas perekonomian namun berlangsung dengan damai.

Demonstrasi serupa terjadi dalam pekan itu meluas di Sorong dan Fakfak, Papua Barat. Juga di Biak, Yapen, Merauke, Nabire, Mimika, Yahukimo, dan Deiyai, Papua.

Di Jayapura, kota tempat Evert meregang nyawa, pada 28 Agustus, massa demonstrasi berjalan kaki dari Waena Expo, Distrik Heram, Kota Jayapura. Mereka berhenti di Bundaran Abepura. Ketika massa dari Kabupaten Kerom datang bergabung, mereka melanjutkan jalan kaki ke Kantor Gubernur Papua.

Walikota Jayapura Benhur Tomi Mano memperkirakan jumlah mereka sekitar 5.000 orang.

Demonstrasi jilid I itu berjalan damai. Gubernur Papua Lukas Enembe menerima tuntutan demonstran dan aksi unjuk rasa berakhir dengan aman.

Namun demonstrasi serupa keesokan harinya pada 29 Agustus 2019 yang mulanya damai, berlanjut dengan aksi anarkisme. Massa melempar batu, menjarah dan membakar sejumlah toko dan rumah yang umumnya milik pendatang, serta gedung pemerintah.

Gedung Bea Cukai hangus menjadi jelaga. Juga Gedung Komisi Pemilihan Umum Daerah dan Telkom.

Pemerintah Kota Jayapura mencatat terdapat 48 motor dan 24 mobil yang dibakar massa. Berikut 182 toko yang dijarah dan dibakar. Juga satu orang dilaporkan tewas pada saat itu.

Esoknya, sejumlah pemilik bangunan yang dibakar membalas aksi itu dengan merazia warga yang lewat. Polisi mencatat terdapat lima nyawa melayang, termasuk nyawa Evert.

Kini, situasi Jayapura mulai kondusif, seperti disaksikan Anadolu Agency pekan lalu. Skala konflik mulai mereda. Aktivitas perekonomian dan pendidikan kembali aktif seperti sedia kala. Warga Papua mulai kembali berinteraksi dengan pendatang.

Namun kasus tewasnya Evert belum juga terungkap. Keluarga Evert masih menunggu polisi mengungkap pelakunya.

Masalah laten

Pilemon Mofu, kerabat Evert, mengatakan bahwa Evert tewas dalam situasi konflik korizontal hari itu antara warga Papua dengan pendatang. Hari itu polisi terkesan tidak cepat bertindak sehingga situasi menjadi konflik horizontal.

Anadolu Agency sudah berkali-kali menyodorkan wawancara kepada Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Polisi Rudolf Rodja dan Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Mustofa Kamal, namun hingga kini tak beroleh hasil.

Konflik sosial di Papua dan Papua Barat memang bersifat multidimensi, antara lain konflik antara warga Papua dan para pendatang yang rata-rata lebih maju secara ekonomi dari warga lokal, seperti dilaporkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan laporan lembaga lainnya seperti East West Center (laporan bertajuk Papua Insecurity) yang berbasis di Amerika Serikat.

Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Timotius Murib membenarkan adanya potensi konflik antara pendatang dan warga Papua. Saat ini, dalam banyak hal orang Papua tertinggal ketimbang pendatang dari pulau lain.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Papua saat ini sebatas 60,06, jauh tertinggal ketimbang Jakarta yang mencapai 80,47.

Makanya, lanjut Timotius, sektor-sektor ekonomi di Papua lebih dikuasai oleh warga yang berasal dari Jawa atau Makassar.

“Solusinya tindakan afirmatif, memberikan kesempatan bagi orang Papua untuk mengembangkan potensi sumber daya manusia dan perekonomiannya,” ujar Timotius.

Konflik laten yang tidak segera diselesaikan ini terbukti dapat meledak sewaktu-waktu, mendompleng aksi unjuk rasa yang berlangsung damai. 

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA