Kebakaran hutan Riau belum teratasi sebabkan udara berkategori "tidak sehat"

Sebagian orang menggunakan masker saat berkendara atau beraktivitas di luar ruangan

Kebakaran hutan Riau belum teratasi sebabkan udara berkategori

Kabut asap masih menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau hingga Senin sebagai imbas dari kebakaran hutan dan lahan.

Sejak awal September lalu, matahari tidak tampak di langit Pekanbaru. Langit yang semestinya biru berganti menjadi kelabu.

Sebagian orang menggunakan masker saat berkendara atau beraktivitas di luar ruangan.

Indeks kualitas udara di Pekanbaru pada hari ini menunjukkan kategori “tidak sehat”.

Menurut Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, kandungan particular matter (PM) 10 di ibu kota Riau ini mencapai 195,4 mg/meter kubik.

Selain itu, jarak pandang di Kota Pekanbaru berkisar 1,2 kilometer.

Pemerintah Riau masih meliburkan sekolah sejak Senin pekan lalu akibat kualitas udara yang belum membaik.

Pemerintah juga membuka belasan posko kesehatan gratis untuk menangani masyarakat yang terdampak kabut asap.

Posko-posko kesehatan ini juga menyediakan masker, oksigen murni, obat-obatan, dan vitamin.

Salah satu warga Pekanbaru, Echy Kurniawati, 30, mengatakan kabut asap yang menyelimuti Riau membuat matanya perih dan dadanya sesak.

Ini baru kali pertama Echy keluar rumah sejak kualitas udara di Riau memburuk.

Echy akhirnya mendatangi salah satu posko kesehatan di Mal Pelayanan Publik Pekanbaru untuk mendapatkan oksigen murni.

“Saya langsung ke sini (posko kesehatan) karena tadi waktu di luar sesak nafas,” kata Echy kepada Anadolu Agency.

Sementara itu, dua orang anaknya yang berumur 4 tahun dan 5 tahun mulai batuk-batuk akibat dampak dari kabut asap.

“Padahal mereka di rumah saja, enggak keluar. Tapi belakangan di dalam rumah pun tetap bikin mata pedih,” kata dia.

-Hujan belum turun

Analis BMKG Pekanbaru Bibit Suryanto memperkirakan kualitas udara di Riau belum akan membaik dalam beberapa hari ke depan.

Pasalnya, belum ada tanda-tanda hujan akan turun di Riau. Upaya menurunkan hujan buatan pun belum berhasil karena bergantung pada awan potensial.

Selain itu, ada 701 titik panas di wilayah Sumatra bagian selatan, di mana sebagian asapnya terbawa oleh angin ke wilayah Riau.

Padahal hanya ada 73 titik panas di Riau, tidak sebanyak di Sumatra Selatan yang jumlahnya mencapai 423 titik.

“Tapi karena angin kabut asapnya terbawa ke sini,” tutur Bibit.

Berdasarkan pantauan Anadolu Agency, kebakaran hutan masih terjadi di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau.

Hingga Senin sore tim pemadam masih berupaya memadamkan api menggunakan selang air.

Kabut asap menjadi lebih pekat di area pemukiman warga di sekitarnya. Rumah dari seorang warga, Syafril Leo, 43, berjarak hanya 100 meter dari titik api tersebut.

Sejak api membakar lahan di sekitar rumahnya itu, Syafril harus bersiaga agar api tidak sampai ke rumahnya.

“Malam terpaksa harus ronda, karena kalau sampai api kena rumah habislah sudah,” tutur dia.

Tak ada yang tahu bagaimana asal mula lahan itu terbakar. Api tiba-tiba tampak sejak Minggu siang lalu. Namun dia menduga, lahan itu sengaja dibakar.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA