Karhutla sulit padam, kabut asap masih selimuti Riau

BNPB mencatat luas karhutla di Riau telah mencapai 49 ribu hektare, dimana 40 ribu hektare di antaranya merupakan lahan gambut

Karhutla sulit padam, kabut asap masih selimuti Riau

Kabut asap masih menyelimuti wilayah Riau akibat kebakaran hutan dan lahan belum padam.

Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi particular matter (PM) 10 di Pekanbaru mencapai 404,71 µg/m3 pada Jumat pukul 14.00 WIB dan dikategorikan “berbahaya”.

Jarak pandang di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru adalah 900 meter dengan kecepatan angin 10 kilometer per jam. Sejumlah penerbangan tertunda akibat kabut asap.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo mengaku kesulitan memadamkan api yang berada di lahan gambut.

BNPB mencatat luas karhutla di Riau telah mencapai 49 ribu hektare, dimana 40 ribu hektare di antaranya merupakan lahan gambut.

“Beberapa kali kita mencoba itu api baru bisa padam total setelah seminggu dan lahan gambut itu telah menjadi bubur baru bisa betul-betul padam,” jelas Doni di Jakarta, Jumat.

Upaya menurunkan hujan buatan juga beberapa kali gagal karena tidak ada volume awan yang cukup.

BNPB telah memperbanyak helikopter untuk water bombing serta menambah petugas di darat untuk meadamkan api.

Doni meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker sementara ini.

“Saya sudah perintahkan staf untuk menyiapkan kembali cadangan masker untuk didistribusikan ke daerah yang sudah parah terpapar asapnya,” kata Doni.

Menurut Dinas Kesehatan Riau, jumlah pasien infeksi saluran pernafasan akut mencapai 9.931 orang pada 1-11 September 2019.

Sementara itu, musim kemarau diprediksi berlangsung hingga akhir Oktober sehingga kemungkinan titik panas akan tetap ada hingga saat itu.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat ada kenaikan titik panas di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara dan Papua pada 12 September.

KLHK meminta masyarakat mewaspadai dampak kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan aktivitas.

Sejumlah pemerintah daerah yang terdampak karhutla telah meliburkan sekolah akibat kabut asap yang pekat, di antaranya Riau dan Kalimantan Barat.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA