Joko Widodo, dari tukang kayu menuju dua kali presiden

Periode pertama fokus pada pembangunan infrastruktur, jika terpilih lagi akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia

Joko Widodo, dari tukang kayu menuju dua kali presiden

JAKARTA

Hasil hitung cepat tidak resmi sejumlah lembaga survei menyatakan calon presiden petahana Joko Widodo dan pasangannya Ma’ruf Amin unggul dari lawan politiknya Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jika hasil perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan hal serupa, maka Jokowi akan kembali memimpin Indonesia untuk periode keduanya.

Jokowi lahir di Solo, 21 Juni 1961 dari keluarga sederhana. Awalnya dia adalah pengusaha furnitur, dengan mendirikan perusahaan mebel, CV Rakabu pada 1989.

Jokowi memiliki tiga orang anak dari istrinya Iriana Widodo. Tidak satu pun anaknya terjun ke dunia politik hingga kini.

Penggemar musik metal ini sendiri memulai karier politiknya ketika terpilih sebagai Wali Kota Solo pada 2005, diusung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Saat menjabat sebagai wali kota, lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini berhasil menata dan memindahkan 900 pedagang kaki lima (PKL) di Taman Banjarsari Solo ke lokasi yang baru.

Keberhasilan ini menarik perhatian karena pemindahan PKL di Indonesia sering kali diwarnai bentrok antara para pedagang dengan aparat keamanan.

Jokowi juga terkenal dengan kebiasaannya “blusukan”, yaitu mendatangi lokasi proyek pembangunan atau kawasan tertentu untuk melihat sendiri situasi di lapangan.

Popularitas Jokowi membuatnya menang telak pada pemilihan Wali Kota Solo 2010 dan menjabat untuk periode kedua.

Pada 2011, PDIP mengusung Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang diusung Partai Gerindra.

Jokowi-Ahok berhasil mengalahkan calon Gubernur petahana Fauzi Bowo – Nahrowi Ramli pada Pilgub DKI Jakarta 2012.

Pada 2013, Jokowi berhasil menata Pasar Tanah Abang, pusat grosir terbesar di Asia Tenggara yang juga memiliki persoalan pelik terkait PKL dan premanisme.

Di masa jabatannya, Jokowi juga memulai ground breaking proyek MRT pertama di Jakarta sekaligus di Indonesia. Sekitar 6 tahun setelahnya, moda transportasi itu sekarang sudah beroperasi.

Belum dua tahun menjabat sebagai Gubernur Jakarta, PDIP mengusung dia pada Pilpres 2014 berpasangan dengan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Ketika itu Jokowi berhadapan dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Ketua Umum Partai Amanata Nasional (PAN) Hatta Rajasa.

Jokowi-JK didukung PDIP, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Hanura, sedangkan Prabowo-Hatta didukung Gerindra, PAN, PKS, dan PPP.

Jokowi-JK kemudian memenangi pemilu dengan selisih suara sekitar enam persen dengan Prabowo-Hatta.

Periode pertama pemerintahannya, Presiden Jokowi langsung fokus pada pembangunan infrastruktur.

Dia mengklaim telah membangun jalan tol sepanjang 782 kilometer hingga akhir 2018. Tahun ini, panjang jalan akan bertambah hingga 1.854 kilometer pada 2019.

Dia juga membangun jalur kereta api sepanjang 754,59 km spoor dan peningkatan dan rehabilitasi jalur sepanjang 413,6 km spoor.

Proyek berikutnya adalah pembangunan bendungan, embung, dan jalur irigasi. Paling fenomenal, Jokowi menyelesaikan pembangunan bendungan Jatigede, Jawa Barat, yang sudah dicanangkan sejak presiden pertama Soekarno.

Menurut Jokowi, pembangunan infrastruktur, termasuk jalan tol harus diakselerasi lagi.

Jika seluruh pembangunan infrastruktur selesai, hal itu akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mempermudah bisnis di Indonesia karena kecepatan distribusi barang dan mobilitas orang makin lancar.

Dengan demikian, Indonesia akan siap bersaing dengan negara lain.

Setelah urusan infrastruktur selesai, Jokowi akan fokus pada pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Jokowi ingin agar kualitas SDM di Indonesia semakin baik hingga bisa meningkatkan produktivitas ekonomi dan tidak selalu terjebak dalam negara dengan pendapatan menengah (middle income trap).

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA