Jalan lapang Andika Perkasa menjadi KSAD

Karir Andika pada tahun 2018 terbilang cukup moncer, sebab dalam satu tahun Andika mendapatkan promosi sebanyak tiga kali, salah satunya menjadi KSAD.

Jalan lapang Andika Perkasa menjadi KSAD

JAKARTA

Hari ini Presiden RI Joko Widodo resmi melantik Panglima Komando Strategis Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI Andika Perkasa sebagai Kepala Staf Angkatan Darat di Istana Negara, Jakarta.

Andika menggantikan KSAD sebelumnya yakni Jenderal TNI Mulyono yang akan pensiun pada awal 2019 mendatang.

Pelantikan mantan komandan Pasukan Pengamanan Presiden tersebut berdasarkan Keputusan Presiden No 97/TNI Tahun 2018 tentang pemberhentian dan pengangkatan KSAD.

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto serta Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menjadi saksi dalam penandatanganan berita acara pelantikan di Istana Negara tersebut.

Presiden juga memutuskan menaikkan pangkat satu tingkat lebih tinggi kepada Andika Perkasa dari sebelumnya Letnan Jenderal TNI menjadi Jenderal TNI.

Kenaikkan pangkat itu diatur dalam Keputusan Presiden No 98/TNI Tahun 2018 tentang kenaikan pangkat dalam golongan perwira tinggi TNI.

Presiden juga langsung menyematkan pangkat bintang empat kepada Andika Perkasa.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Anadolu Agency, Pria yang lahir di Bandung 21 Desember 1964 ini merupakan lulusan Akademi Militer 1987 lalu. 

Andika berpengalaman dalam infanteri Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Pada 2014 lalu, Andika yang merupakan menantu dari Mantan Kepala BIN Hendropriyono ini menjabat sebagai Komandan Paspampres (Danpaspampres).

Dua tahun kemudian pada 2016 Andika langsung ditunjuk untuk menjadi Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) XII/Tanjungpura. 

Karir Andika pada tahun 2018 terbilang cukup moncer, sebab dalam satu tahun Andika mendapatkan promosi sebanyak tiga kali, salah satunya menjadi KSAD.

Pada Januari 2018, Andika ditunjuk untuk menjadi Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI AD (Dankodilatad).

Beberapa bulan kemudian pada Juli 2018, Andika menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Startegis Angkatan Darat (Pangkostrad), empat bulan kemudian Andika dipilih menjadi KSAD oleh Presiden RI Joko Widodo.

Presiden RI Joko Widodo mengaku memilih Andika lantaran rekam jejaknya yang cukup lengkap.

Hal itu, yang menjadi keputusan Mantan Gubernur DKI Jakarta itu memilih Andika Perkasa.

"Yah ini kan kita melihat rekam jejak pak Andika pernah di Kopassus, pernah di Kodiklat, pernah di Pangdam, pernah di Kostrad, pernah dulunya di penerangan. Dan Pernah di Danpaspampres, saya kira komplet," ujar Joko Widodo pada Kamis di Istana Negara usai melantik KSAD yang baru.

Dia mengatakan perjalanan karir Andika sudah memenuhi untuk menjadi KSAD.

Dia pun tidak mempermasalahkan umur yang masih muda dibandingkan calon KSAD lainnya.

"Sekali lagi semuanya kan ada hitung-hitungannya terutama pengalaman, rekam jejam, kemudian berkaitan dengan pendidikan2 yang telah dijalani semuanya kami lihat," kata dia.

Joko Widodo yakin dengan KSAD mengenai tugas apa saja yang harus dikerjakan nantinya.

"Ya enggak usah tugas khusus-tugas khusus. KSAD yang baru tahu apa yg harus dilakukan buat bangsa dan negara tahu semuanya, 100 persen tahu," pungkas dia.

Sementara itu menurut Jenderal TNI Mulyono yang merupakan KSAD yang lama, tidak ada tugas ataupun PR yang harus diselesaikan penggantinya itu.

Dia pun menitipkan pesan agar program yang dinilai baik dan sudah berjalan untuk tetap dilanjutkan.

"Kalau dinilai masih bagus dan layak dilanjutkan ya lanjutkan. Kalau harus direvisi dilihat situasi ya diperbaiki. Saya rasa organisasi memang seperti itu ya," tambah dia.

Mengenai penunjukan tersebut, Mulyono yakin pilihan Presiden RI merupakan pilihan terbaik.

"Kalau presiden yang milih kan berarti sudah bagus. Semuanya bagus," kata dia.

Menurut Anggota Komisi I DPR Arwani Thomafi dari Fraksi PPP yang merupakan mitra kerja TNI, keputusan presiden tersebut merupakan langkah yang sangat tepat. 

Karena kata dia, Andika memiliki pengalaman dalam mengemban jabatan penting dan strategis.

Selain itu juga kata dia latar belakang pendidikan umum yang pernah diemban oleh Andika menjadi daya tarik tersendiri.

"Seperti National Defense University, Harvard University, The George Washinton University, menambah daya tarik figur Andika," kata dia.

Arwani menegaskan tidak ada yang aneh dengan pelantikan tersebut.

Dia mengingatkan KSAD yang baru untuk melakukan modernisasi alat utama sistem pertahanan (alutsista) serta bersikap netral pada tahun politik ini.

"Andika juga memiliki tugas penting untuk memastikan institusi TNI AD netral di tahun politik ini. Netralitas TNI di tahun politik menjadi hal utama untuk melanjutkan reformasi," kata dia.

Nuansa politik dan kekerabatan 

Direktur Imparsial Al Araf menilai pertimbangan Presiden dalam menunjuk Andika sangat kental dengan isu politik dan juga isu kekerabatan.

Dia menyebut kekerabatan sangat mempengaruhi penunjukan tersebut karena Andika merupakan menantu dari Hendropriyono mantan Ketua Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) yang mendukung Presiden RI Joko Widodo pada Pemilu 2019.

Hendro juga sempat menjadi penasehat tim transisi saat Joko Widodo memenangkan Pemilu 2014 lalu.

"Pak Hendro adalah orang yang berada di dalam lingkaran Presiden dan Andika memiliki hubungan kekerabatan dengan beliau sehingga dimensi itu sulit untuk dihindari. sementara faktor kepentingan politik 2019, juga sepertinya sangat dihitung dalam pergantian ini. Maka pergantian ini sangat kental dimensi politisnya," jelas dia kepada Anadolu Agency melalui sambungan telepon.

Kepentingan Pemilu 2019 juga menjadi pertimbangan kata Al Araf. Dia menyebut diharapkan nantinya Andika bisa meredam dinamika yang ada di dalam tubuh Angkatan Darat.

"Yah tentu Joko Widodo memiliki persoalan di masa lalu dengan soal di 2014, misalkan ada pertimbangan oknum babinsa terlibat dalam dukung mendukung Prabowo yah, kemudian kekhawatiran itu juga terjadi dengan isu komunisme yang gencar pada masa Panglima Gatot Nurmantyo," kata Al Araf.

Sikap Presiden tersebut juga dipertanyakan karena Andika merupakan lulusan Akademi Militer 1987.

Padahal kata dia ada perwira tinggi lainnya di Angkatan Darat yang memiliki pangkat bintang tiga serta berpotensi menjadi KSAD.

"AD ada perwira angkatan 1984, 1985, dan 1986. Lompat ke angkatan 1987 itu menjadi suatu yang pertanyaan," tambah dia. 

Al Araf mencontohkan ada sejumlah nama potensial di antaranya Sekretaris Menkopolhukam Letjen TNI Agus Suryabakti yang merupakan lulusan Akmil 1984, Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Letjen TNI Doni Munardo, dan Wakil KSAD Letjen TNI Tatang Sulaiman.

Dia juga menyebut ada calon KSAD kuat lainnya yang merupakan lulusan terbaik akademi militer tahun 1987, yakni Inspektur Jenderal TNI Letjen Muhammad Herindra.

"Kalau misalkan yang dipilih 1987 pun bisa jatuh ke Adhimakayasa, tapi kan tidak dipilih yang Adhimakayasa yang dipilih Pangkostrad," Jelas Al Araf.

Meski sudah terpilih sebagai KSAD, Al Araf mengingatkan kepada Andika untuk menunjukkan komtimennya kepada publik mendukung kasus pelanggaran HAM masal lalu.

"Kasus Semanggi, kasus Munir, Tri Sakti dan kasus lainnya," terang Al Araf.

Enggan berkomentar

Menanggapi isu mengenai terpilih karena kekerabatan dan kedekatan Presiden RI dengan mertuanya, Andika tidak mau ambil pusing dan mengomentari hal tersebut.

Menurut dia, keputusan penunjukan tersebut merupakan hak dari Presiden RI Joko Widodo.

"Yah orang kalau mau ngomong apa saja ya wis monggo saya kan tidak bisa berkomentar dan tidak perlu ya, semuanya kan beliau yang memutuskan saya tidak tahu apa yang ada di dalam penilaian beliau yang penting dari dulu ya gini-gini aja," kata Andika usai dilantik.

Dia juga mengakui banyak perwira yang lebih senior di Angkatan Darat.

Itu Sebab, dirinya bertekad untuk terus menjalin komunikasi dengan seniornya.

"Hal terpenting karena tanpa dukungan senior-senior juga tidak mungkin saya bisa berjalan sesuai arah yang mungkin mereka harapkan," jelas dia. 










TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA