Industri masih minim gunakan instrumen syariah di pasar modal

Selama ini pelaku industri tekfin lebih banyak mengharapkan pendanaan dari perbankan seperti lewat pinjaman dari bank konvensional dan belum menggunakan instrumen syariah

Industri masih minim gunakan instrumen syariah di pasar modal

Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) mengatakan pelaku industri yang menggunakan instrumen syariah di pasar modal masih minim dan penerbitan sukuk sebagai sumber pembiayaan lebih banyak dilakukan oleh pemerintah.

Direktur Pengembangan Ekonomi Syariah dan Industri Halal KNKS Afdhal Aliasar mengatakan penggunaan instrumen syariah di pasar modal oleh pelaku industri masih perlu didorong.

“Ini menjadi PR bersama karena penerbitan sukuk di pasar modal lebih banyak dari pemerintah dan industri pasar modal juga harus punya kemampuan memperbaiki diri,” jelas dia dalam diskusi di Jakarta, Selasa.

Afdhal mengatakan selama ini pelaku industri lebih banyak mengharapkan pendanaan dari perbankan seperti lewat pinjaman dari bank konvensional dan belum menggunakan instrumen syariah.

Padahal, saat ini sudah cukup banyak berkembang industri halal seperti pariwisata, makanan minuman, kosmetik, kesehatan, dan lainnya.

“Kita ingin mengembangkan rantai nilai halal sehingga kegiatan ekonomi pelaku industri halal bisa terhubung dengan keuangan syariah,” imbuh dia.

Afdhal berharap pelaku industri bisa menerbitkan instrumen syariah yang bisa diperdagangkan di pasar modal terlebih lagi Bursa Efek Indonesia sudah cukup kreatif dengan adanya persyaratan IPO tidak harus untuk pendanaan yang besar.

“Masyarakat yang punya usaha dengan aset tak lebih dari Rp50 miliar bisa mencari pendanaan ke pasar modal sehingga opsi (untuk penerbitan sukuk) sudah terbuka,” tambah Afdhal.

Dia menambahkan sukuk yang diterbitkan pemerintah sudah banyak dan sudah berjalan dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, KNKS ingin dari pelaku swasta juga menerbitkan sukuk agar gaung pengembangan produk investasi syariah bisa lebih kuat lagi.

Afdhal menambahkan dari sisi investor saat ini sudah banyak yang mulai melirik produk keuangan syariah seperti reksadana syariah.

Pembeli reksadana melalui Bukalapak dan Tokopedia menurut dia, saat ini banyak yang lebih memilih reksadana syariah dibanding reksadana konvensional.

“Investor ritel punya prefensi pada instrumen syariah dan kita harap fund manager bisa kelola ini agar instrumen itu jadi lebih menarik dan lebih mudah dimiliki,” imbuh dia.

Afdhal menambahkan infrastruktur pasar modal syariah juga perlu diperkuat dengan menambah sumber daya yang memahami akuntansi dan hukum dalam efek syariah serta perusahaan penjual efek dan penjamin emisi efek yang paham ekonomi syariah sehingga bisa dengan lebih mudah berinovasi dalam membuat instrumen investasi syariah.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA