Indonesia harus segera diversifikasi energi terbarukan

Produksi minyak bumi menurun 0,21 persen per tahun sedang konsumsi tumbuh 2,1 persen per tahun

 Indonesia harus segera diversifikasi energi terbarukan

JAKARTA

Indonesia bertekad  segera mendiversifikasikan sumber energi dari eksplorasi alam ke energi terbarukan.

Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan bahwa produksi minyak bumi menurun 0,21 persen per tahun sedang konsumsi tumbuh 2,1 persen per tahun.

“Begitu pula dengan gas alam dan batubara, tren produksinya terus turun, kondisi seperti ini kita harus berhati-hati dalam hal ketahanan dan keamanan energi kita,” papar Luhut, dalam acara Pertamina Energi Forum 2018, Kamis, di Jakarta.

Luhut mengatakan bahwa Indonesia wajib mengembangkan berbagai sumber energi terbarukan yang memiliki potensi besar.

Energi panas bumi misalnya, ujar Luhut, memiliki potensi sebesar 29,544 MW.

Sedang potensi energi biomassa, lanjut Luhut, sebesar 32,654 MW, energi hydro sebesar 75,091 MW, mini dan micro hydro 19,385 MW, energi angin 60,647 MW, dan energi matahari sebesar 207,898 MW.

Sehingga, imbuh Luhut, total Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sebanyak 443,208 MW.

“Potensi kita di renewable energy sangatlah besar, namun pemanfaatan atau utilisasi kita masih rendah,” menurut Luhut.

Salah satu upaya melestarikan lingkungan itu, kata Luhut, adalah dengan menggunakan lithium battery.

Indonesia, kata Luhut, akan membangun pabrik lithium battery terbesar sedunia di Morowali, dalam waktu dekat.

Lithium battery, ujar Luhtu, lebih ramah lingkungan karena dapat didaur ulang.

Selain itu, menurut Luhut, adanya pabrik di Indonesia akan membuat harga lithium battery tertekan sehingga konsumsi mobil listrik yang menggunakan baterai tersebut akan naik.

“Tentunya ini akan menekan gas emisi rumah kaca dari kendaraan berbahan fosil,” ujar dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA