Indonesia berpeluang jadi mediator India-Pakistan soal Kashmir

Indonesia memiliki rekam jejak yang baik karena perannya sebagai mediator dalam konflik di Asia Selatan antara Afghanistan dengan Taliban

Indonesia berpeluang jadi mediator India-Pakistan soal Kashmir

Pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia yang fokus mengenai Asia Selatan / Pakar Asia Selatan FISIP Universitas Indonesia Agung Nurwijoyo menyebut Indonesia memiliki peluang untuk memediasi konflik antara India dengan Pakistan terkait Kashmir.

Menurut dia, Indonesia memiliki rekam jejak yang baik karena perannya dalam menjadi mediator dalam konflik di Asia Selatan yakni antara Afghanistan dengan Taliban.

"Memang secara garis besar sampai hari ini butuh negosiator ulung hingga saat ini belum ada," ujar Agung Nurwijoyo, di Jakarta pada Rabu.

Apalagi kata Agung, Indonesia memiliki hubungan baik dengan Pakistan dengan India.

India merupakan mitra dagang startegis karena negara yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi itu merupakan negara tujuan ekspor CPO Indonesia terbesar.

Sementara itu, Pakistan dengan Indonesia merupakan negara yang sama-sama penduduknya mayoritas Islam, selain itu juga kedua negara merupakan negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

"Isu Kashmir sensitif dan kita tidak bisa melihatnya sebagai isu terkait dengan dunia Islam, meskipun mayoritas di sana adalah mayoritas Muslim. Nah tapi kita melihat juga dari sisi yang lain bahwa Indonesia di kawasan Asia Selatan tidak hanya membutuhkan Pakistan sebagai mitra tetap, Indonesia juga butuh India sebagai mitra," jelas dia.


Beberapa waktu lalu, India membatalkan status khusus yang diberikan kepada satu-satunya negara bagian berpenduduk mayoritas Muslim di negara itu.

Status memungkinkan Kashmir memberlakukan otonomi sendiri dengan imbalan bergabung dengan persatuan India setelah kemerdekaan pada 1947.

Sejak 1947, Jammu dan Kashmir diberi hak khusus untuk memberlakukan hukumnya sendiri.

Ketentuan tersebut juga melindungi hukum kewarganegaraannya, yang melarang orang luar untuk menetap atau memiliki tanah di wilayah tersebut.

Jammu dan Kashmir itu dikuasai oleh India dan Pakistan sebagian dan diklaim oleh keduanya secara penuh.

Sejak berpisah pada 1947, India dan Pakistan telah berperang sebanyak tiga kali - pada 1948, 1965 dan 1971 - dua di antaranya memperebutkan Kashmir.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA