Indonesia akui belum temukan mahasiswa alami kerja paksa di Taiwan

Direktur Perlindungan WNI, Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan timnya sudah melakukan survey terhadap mahasiswa Indonesia di sana dan belum menemukan adanya isu mengenai hal itu

Indonesia akui belum temukan mahasiswa alami kerja paksa di Taiwan

JAKARTA

Pemerintah Indonesia mengaku hingga kini belum menemukan adanya mahasiswa Indonesia di Taiwan yang memberikan kesaksian mengenai adanya kerja paksa di sana.

Direktur Perlindungan WNI, Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal mengatakan timnya sudah melakukan survei terhadap mahasiswa Indonesia di sana dan belum menemukan adanya isu mengenai hal itu.

"Kita akan tanya jangan-jangan target surveinya beda, antara yang disurvei dan kita survei di universitas dengan yang disurvei oleh anggota Parlemen tersebut," kata dia kepada Anadolu Agency, Selasa.

Untuk meningkatkan pengawasan, kata dia, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenrisetdikti) akan berkoordinasi untuk membahas pengelolaan skema kerja sama kuliah-magang antara Pemerintah Indonesia dan Taiwan.

"Sekarang Kemenristekdikti setuju untuk menata kembali terlalu banyak skemanya jadi tidak ada yang monitor," tambah dia.

Sebelumnya, berdasarkan hasil investigasi anggota parlemen di Taiwan ratusan mahasiswa mengalami kerja paksa di sebuah pabrik lensa kontak.

Mereka bekerja dari pagi hingga malam dan harus berdiri selama 10 jam.

Pabrik tersebut juga hanya memberikan waktu istirahat selama dua jam. Sementara mahasiswa muslim yang bekerja diberi makanan yang tidak halal.

Pemerintah menegaskan perlu ada perbaikan tata kelola skema kuliah-magang menyusul adanya dugaan praktik kerja paksa terhadap 300 mahasiswa Indonesia di Taiwan menyusul isu kerja paksa.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA