Dirjenpas: Narapidana Lambaro kabur bermula dari keributan

Narapidana membobol jendela dan pintu dengan barbel, kemudian melarikan diri

Dirjenpas: Narapidana Lambaro kabur bermula dari keributan

JAKARTA

Pemerintah mengungkapkan kaburnya 113 orang narapidana penghuni lembaga pemasyarakatan (lapas) kelas II A Lambaro, Aceh Besar, bermula dari keributan.

Saat itu, ujar Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami, 300an narapidana baru selesai shalat maghrib di masjid dan beberapa di antaranya berteriak di sekitar ornamesh atau pagar besi yang memisahkan kamar hunian dengan kantor utama.

Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) dan Kepala Seksi Keamanan datang menanyakan penyebab keributan itu, tutur Sri, namun narapidana berteriak marah, bahkan menyiramkan cairan yang diduga berisikan air cabai.

“Kepala KPLP yang terkena siraman itu lari ke depan karena matanya perih, tinggal Kepala Seksi Keamanan,” kata Sri, Jumat, di Jakarta.

Setelah itu, lanjut Sri, sejumlah narapidana membobol jendela dan menjebol pintu dengan barbel, kemudian melarikan diri.

Sri mengatakan kebijakan pembolehan narapidana shalat berjamaah di masjid ini merupakan kebijakan baru, sejak kepala lapas diganti awal tahun lalu, sekaligus tuntutan Pemda Aceh sebagai wilayah bersyariat.

“Ternyata ada yang memanfaatkan kebijakan itu untuk konsolidasi dan melakukan perlawanan,” ujar dia.

Kerusuhan serupa pernah terjadi di lapas Lambaro pada Januari 2018.

Saat itu narapidana merusak fasilitas lapas dan membakar sejumlah ruangan. Mereka juga membakar satu unit mobil kepolisian yang masuk ke halaman lapas untuk mengendalikan massa.

Polisi menetapkan 11 orang tersangka penyebab kerusuhan tersebut.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA