Bawaslu minta KPU gelar pemungutan suara susulan di Sydney

Bawaslu menilai penutupan TPS di saat masih ada pemilih yang mengantre tidak sesuai dengan prosedur, tata cara atau mekanisme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan

Bawaslu minta KPU gelar pemungutan suara susulan di Sydney

JAKARTA

Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merekomendasikan Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI menggelar pemungutan suara susulan untuk warga negara Indonesia (WNI) di Sydney.

Pasalnya, sejumlah pemilih WNI tidak dapat menggunakan hak pilihnya meski telah mengantri karena Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Sydney menutup tempat pemungutan suara (TPS) pada pukul 18.00 waktu setempat.

“Maka kami memerintahkan pemungutan suara lanjutan bagi pemilih di Sydney yang terdaftar dalam DPTb (daftar pemilih tambahan) ataupun dalam DPK (daftar pemilih khusus) yang telah berada di antrean tapi belum menggunakan hak pilih di TPS,” ujar Anggota Bawaslu Fritz Edward Siregar dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Bawaslu menilai penutupan TPS di saat masih ada pemilih yang mengantre tidak sesuai dengan prosedur, tata cara atau mekanisme yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

“Itu menyebabkan pemilih tidak dapat menggunakan hak pilihnya, tidak sesuai azaz umum dan adil dalam penyelenggaraan pemilu,” lanjut Fritz.

Fritz mengatakan alasan waktu penggunaan tempat yang terbatas semestinya bisa diantisipasi oleh PPLN setempat, namun Bawaslu tidak akan mengomentari lebih jauh perihal teknis pelaksanaan yang menjadi wewenang KPU.

Komunitas masyarakat Indonesia di Sydney Australia sebelumnya membuat petisi agar pemungutan suara diulang karena ratusan warga Indonesia yang mempunyai hak pilih tidak bisa mencoblos meski sudah mengantre di depan TPS Townhall.

Pemungutan suara di Sydney berlangsung pada Minggu, 14 April 2019 lalu.

PPLN Sydney sebelumnya menjelaskan bahwa banyak pemilih yang tidak terdaftar tidak tahu bahwa dirinya masuk ke dalam Daftar Pemilih Khusus Luar Negeri (DPKLN) dan baru diperbolehkan mencoblos satu jam terakhir atau pukul 17.00 hingga 18.00 waktu setempat.

Antrian memuncak pada pukul 17.00 dan ketika TPS ditutup pada pukul 18.00 masih banyak WNI yang mengantri.

Panwaslu, saksi, perwakilah Mabes Polri dan pihak keamanan gedung akhirnya menutup pintu masuk TPS dan hanya melayani pemilih yang berada di dalam gedung.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA