Bantuan dihentikan, nasib pencari suaka di Kalideres makin tak pasti

Belum ada solusi terkait nasib para pencari suaka setelah para pencari suaka diminta meninggalkan tempat penampungan sementara pada 31 Agustus nanti

Bantuan dihentikan, nasib pencari suaka di Kalideres makin tak pasti

Nasib sekitar 1200 pencari suaka di Kalideres, Jakarta Barat makin tak pasti setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghentikan fasilitas dan layanan untuk mereka sejak Kamis.

Para pencari suaka tersebut telah menempati sebuah gedung bekas dengan fasilitas listrik, toilet, konsumsi, serta kesehatan yang ditanggung Pemprov DKI sejak pertengahan Juli lalu.

“Setelah kita melayani 41 hari kerja, cadangan kita menipis,” kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Jakarta Taufan Bakri ketika dihubungi, Kamis.

Menurut dia, anggaran yang digunakan untuk memfasilitasi para pencari suaka berasal dari anggaran bantuan sosial seperti untuk korban kebakaran, banjir, dan sebagainya.

Taufan mengatakan para pencari suaka juga diminta meninggalkan bangunan eks Kodim tersebut pada 31 Agustus mendatang.

Menurut dia, hingga saat ini belum ada solusi terkait nasib para pencari suaka setelah 31 Agustus nanti.

Pemprov DKI telah menyampaikan keputusan ini kepada United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) untuk segera mencarikan solusi.

“Kita serahkan ke UNHCR, Kementerian Luar Negeri, Kemenkopolhukam, tanggal 31 Agustus harus bagaimana orang orang itu,” ujar Taufan.

Para pencari suaka ini sebelumnya sempat mendiami trotoar di Kebon Sirih, Jakarta Pusat yang berdekatan dengan Kantor UNHCR Indonesia.

Mereka berasal dari Afghanistan, Somalia, Sudan dan sejumlah negara lain.

Pemprov DKI kemudian bersedia menyediakan fasilitas sementara untuk mereka agar tidak lagi memenuhi trotoar.

Para pencari suaka berada di Indonesia untuk transit dan menunggu kepastian status resettlement mereka di negara lain.

Salah satu pencari suaka berdarah Afghanistan, Zakir Hussain Moradi, 23, telah dua tahun berada di Indonesia menunggu suaka.

Sebelumnya dia menetap di Pakistan selama 22 tahun juga sebagai pencari suaka.

Selama belum ada kabar baik dari UNHCR, Zakir dan para pencari suaka ini akan terus luntang-lantung dan bersandar pada ketidakpastian.

“Kami pun tidak tahu sampai kapan harus menunggu kepastian status resettlement,” kata Zakir ketika diwawancara Anadolu Agency pada Juli lalu.

Berdasarkan data UNHCR, terdapat sekitar 14 ribu pengungsi yang terdaftar di Indonesia, 29 persen di antaranya adalah anak-anak. Sebanyak 55 persen pengungsi datang dari Afghanistan, 11 persen dari Somalia, dan 6 persen dari Myanmar.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA