Banjir Bengkulu, 29 orang tewas

Banjir sudah surut di sejumlah wilayah namun menyisakan lumpur dan setumpuk sampah, ujar BNPB

Banjir Bengkulu, 29 orang tewas

JAKARTA 

Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) mengungkapkan korban tewas akibat banjir dan longsor yang melanda Provinsi Bengkulu hingga Senin bertambah menjadi 29 orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan 13 orang masih hilang, dua orang terluka berat dan dua lainnya terluka ringan.

“Korban meninggal terbanyak di Kabupaten Bengkulu Tengah, yaitu 22 orang,” ujar Sutopo dalam keterangannya Senin.

Sedang tanah longsor yang merenggut nyawa, kata Sutopo, terjadi di kaki Gunung Bungkuk, Kabupaten Bengkulu Tengah.

Korban tewas lainnya, tambah Sutopo, berasal dari Kabupaten Kepahiang sebanyak 3 orang, Kabupaten Lebong satu orang dan Kota Bengkulu tiga orang.

“Sebanyak 28 jenazah sudah teridentifikasi, sedang satu lainnya masih dalam proses,” tukas Sutopo.

Sementara korban yang masih hilang, tutur Sutopo, berasal dari Kabupaten Kaur satu orang, Kota Bengkulu dua orang, dan Kabupaten Bengkulu Tengah 10 orang.

Pemerintah, kata Sutopo, mengerahkan ribuan personil tim gabungan dari berbagai lembaga seperti BPBD, TNI Polri, Basarnas, PMI dan relawan.

Tim SAR gabungan, ujar Sutopo, masih berupaya mencari dan mengevakuasi korban.

Saat ini, kata Sutopo, banjir sudah surut di sebagian wilayah dan menyisakan lumpur serta setumpuk sampah.

BNPB juga mencatat terdapat 12.000 orang mengungsi dan 13.000 orang terdampak.

Selain manusia, imbuh Sutopo, BNPB mencatat terdapat sejumlah hewan tewas, yaitu 106 ekor sapi, 102 ekor kambing dan empat kerbau.

Bencana juga merusak 184 rumah, tujuh fasilitas pendidikan dan 40 titik infrastruktur yang tersebar di 10 kabupaten/kota.

Sutopo menuturkan sulitnya menjangkau lokasi titik-titik banjir dan longsor menjadi kendala penanganan darurat.

“Seluruh akses ke lokasi kejadian putus total,” ungkap Sutopo.

Koordinasi dengan aparat kabupaten/kota, lanjut Sutopo, juga menjadi sulit karena banyak aliran listrik yang terputus.

Begitu pula distribusi logistik, tambah Sutopo, terhambat seiring banyaknya akses jalan terputus.

Sutopo menjelaskan jika titik lokasi banjir dan longsor banyak sedang jarak anatar titik-titik tersebut berjauhan sehingga menyulitkan petugas untuk menjangkau lokasi.

Sementara terbatasnya anggaran, ujar Sutopo, mempersulit operasi penanganan bencana.

Saat ini, kata Sutopo, pengungsi membutuhkan tenda, perahu karet, selimut, makanan siap saji, air bersih, lampu emergency, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan jembatan baley.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA