Arus balik, pasokan bahan bakar minyak dan gas aman

Konsumsi BBM nasional jenis gasoline naik dibanding hari normal

Arus balik, pasokan bahan bakar minyak dan gas aman

JAKARTA

Pemerintah memastikan pasokan listrik, Bahan Bakar Minyak (BBM), Listrik, Liquified Petroleum Gas (LPG), dan Bahan Bakar Gas (BBG) nasional normal dan aman jelang puncak arus balik libur Idulfitri 1440 H.

"Hingga H+2 Idulfitri, pasokan BBM, listrik, LPG, BBG normal,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi dalam siaran persnya, Sabtu.

Menurut dia, konsumsi BBM nasional jenis gasoline naik dibanding hari normal dengan kenaikan pertalite 4,77 persen, pertamax/akra 92 naik 25,71 persen dan pertamax turbo naik 4,55 persen.

"Rata-rata naik konsumsi bensinnya, kecuali Premium yang turun 3,07 persen," ujar  Agung.

Untuk BBM jenis solar turun cukup tajam, biosolar turun hingga 76,15 persen, dexlite 72,47%. Namun untuk jenis Pertamina Dex naik 8,96 persen.  

Selain itu konsumsi minyak tanah turun hingga 90,77 persen dan avtur juga turun 9,46 persen.

“Solar turun karena kendaraan berat tidak beroperasi pada H+2 Lebaran,” ujar dia.

Pasokan BBM secara umum juga melebihi kondisi normal dengan rincian premium  (coverage days 21 hari), pertalite (22 hari), pertamax/akra (23 hari), dan pertamax turbo (56 hari), biosolar (30 hari), dexlite (85 hari), pertamina dex (36 hari), kerosene (67 hari) dan avtur (45 hari).

Menurut Agung, stok LPG dilaporkan sebesar 403.597 Metrik Ton (MT) dengan coverage days 19 hari dan BBG 184.500 M3.

Ketenagalistrikan nasional juga dalam kondisi aman dan normal dengan daya mampu pasok pengusahaan PLN tercatat sebesar 40.363 MW dan beban puncak 25,627,47 MW, sehingga masih ada cadangan sistem 14.735,54 MW atau mencapai 57,5 persen.

Beberapa sistem dalam kondisi SIAGA yakni Nias, Lombok dan Bima.

Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan, Jisman Hutajulu mengatakan pada periode libur lebaran ini beban puncak listrik di Sulawesi mengalami penurunan sekitar 25-30 persen dari hari biasa.

Penurunan beban puncak ini menyebabkan kondisi over-frekuensi dan over-voltage pada sistem besar Sulawesi.

"Secara umum, pasokan listrik di Sulawesi berada pada kondisi aman dan masyarakat dapat melaksanakan ibadah dan berlibur dengan nyaman," ungkap Jisman.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA