AMSI, AJI periksa fakta pemilu dibantu Google dan Mafindo

Puluhan pemeriksa fakta dari memeriksa potensi hoaks, kabar bohong dan disinformasi yang beredar di dunia maya sepanjang penyelenggaraan pemungutan suara

AMSI, AJI periksa fakta pemilu dibantu Google dan Mafindo

JAKARTA

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) didukung Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo) dan Google News Initiative menggelar cek fakta terkait penyelenggaraan Pemilihan Umum 2019.

Puluhan pemeriksa fakta dari memeriksa potensi hoaks, kabar bohong dan disinformasi yang beredar di dunia maya sepanjang penyelenggaraan pemungutan suara.

Para pemeriksa fakta ini tergabung dalam inisiatif cekfakta.com yang diperkuat 24 media online anggota AMSI dan Mafindo, serta alumni pelatihan cekfakta yang digelar AJI bersama Google News Initiative.

Program ini juga dilaksanakan oleh 15 AMSI di wilayah yakni Medan, Padang, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Pontianak, Denpasar, Makassar, Mamuju, Manado, Ambon dan Jayapura.

AMSI wilayah tersebut memeriksa fakta atas kabar hoaks yang beredar di wilayahnya.

Tim cek fakta di Indonesia ini memeriksa ratusan klaim yang beredar di media sosial dengan kata kunci terkait integritas dan kredibilitas penyelenggaraan pemilu seperti “antrean pemilih”, “politik uang”, “serangan fajar”, “intimidasi pemilih”, “kinerja KPU”, dan lain-lain.

Pemilahan klaim di media sosial juga dibantu puluhan mahasiswa dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Universitas Indonesia, dan sejumlah kampus lainnya di Jakarta.

Hasil periksa fakta kemudian diolah menjadi artike yang dimuat di media online dan situs cekfakta.com.

"Inisiatif ini juga menolong publik menyaring informasi yang beredar, membantu mereka memilah mana yang benar, mana yang keliru, dan mana yang hoaks belaka. Kami berharap program cekfakta ini mengembalikan kebenaran ke ruang bersama,” ujar Ketua Umum AMSI Wenseslaus Manggut melalui siaran pers.

Ketua Umum AJI Abdul Manan menegaskan pentingnya program ini untuk publik dan pentingnya disiplin verifikasi sebagai esensi jurnalisme.

Melalui inisiatif ini, jurnalis kembali menjalankan fungsi utamanya dalam melayani kepentingan publik dengan menyediakan informasi yang faktual, kredibel dan akurat.

"Inisiatif cek fakta ini menjadi salah satu upaya signifikan jurnalis dan media untuk melawan disinformasi yang banyak berseliweran selama pemilu,” ujar Abdul Manan.

Kepala Google News Lab Asia Pasifik, Irene Jay Liu menuturkan model kolaborasi cek fakta di Indonesia ini bisa menjadi contoh di seluruh dunia.??“Kerja cekfakta.com dalam melawan misinformasi saat ini, dan selama masa pemilu yang baru lewat, bisa jadi inspirasi dan model kolaborasi jurnalis dan media untuk kepentingan publik,” kata dia.

Komite Cek Fakta Mafindo Mohammad Khairil Haesy menilai program ini harus terus dilakukan di masa mendatang.

“Kami berharap program seperti ini terus diadakan, terutama untuk pemilihan umum berikutnya,” ujar Khairil.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA