Aliran modal asing masuk ke Indonesia capai Rp226 triliun

Bank Indonesia mengklaim para investor masih memiliki kepercayaan dengan perkembangan ekonomi Indonesia dan mencari return paling besar untuk penempatan dananya sehingga aliran modal yang masuk ke negara-negara berkembang masih tinggi

Aliran modal asing masuk ke Indonesia capai Rp226 triliun

Bank Indonesia mengatakan aliran modal asing masuk ke Indonesia secara year to date atau dari Januari hingga tanggal 7 November 2019 mencapai Rp226 triliun.

Sebagian besar modal asing itu masuk surat berharga negara, sebesar Rp175 triliun. Dan aliran modal asing yang masuk ke portofolio saham sebesar Rp49 triliun.

Bila dilihat secara mingguan atau week to date, aliran modal asing yang masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp8 triliun.

Bank Indonesia tidak menyebutkan modal asing yang keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Bank Indonesia menilai masih masuknya modal asing diperkirakan mulai berkurangnya ketidakpastian pada sektor keuangan global.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan secara global perekonomian memang masih menunjukkan perlambatan pertumbuhan. Perlambatan ini mengarah ke semua negara sehingga ketidakpastian global relatif masih ada dan akan berlanjut hingga 2020.

“Tapi selama seminggu terakhir ada banyak cerita baik yang memberikan warna positif pada perekonomian global,” jelas Dody, di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, cerita positif tersebut antara lain adanya rencana kesepakatan fase pertama dari ketegangan dagang antara AS dan China, serta membaiknya data purchase manager index di AS untuk sektor nonmanufaktur yang sebagian besar pada sektor jasa.

“Kemudian kalau kita lihat juga perkembangan di Eropa ada kemungkinan positif dari sisi Brexit meskipun dari sisi pertumbuhan outlook ekonomi Eropa masih mengarah ke bawah,” kata Dody.

Dia menjabarkan kondisi tersebut memberikan gambaran bahwa volatilitas di sektor keuangan global dalam seminggu terakhir turun dan sangat positif bagi negara berkembang. Dampanya terlihat pada aliran modal dari negara maju yang masuk ke negara berkembang meningkat.

“Investor relatif confident dengan perkembangan yang ada dan mulai mencari return paling besar untuk penempatan dananya sehingga muncul aliran modal yang masuk ke negara-negara berkembang termasuk Indonesia,” urai Dody.

Menurut Dody, gambaran positif perekonomian global lainnya terlihat dari membaiknya indeks saham AS dan turunnya harga US Treasury 10 tahun sehingga sebagian besar dana pindah ke negara berkembang dengan naiknya imbal hasil dalam bentuk USD.

Selain itu, ada perbaikan pada data-data komoditas andalan Indonesia, meskipun belum untuk seluruh komoditas.

“Gambaran itu menjelaskan perkembangan terakhir rupiah relatif stabil dan bahkan kemarin ada di level Rp13.990 per USD,” kata Dody.

Dody mengatakan secara year to date, rupiah terapresiasi atau menguat sebesar 2,68 persen dan secara week to date menguat 0,3 persen sehingga performa rupiah tergolong baik.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA