12 Atlet Gunakan Doping di PON XIX Jabar

Selain Jabar, ada enam daerah lain yang atletnya diduga menggunakan doping saat tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX 2016. Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel urine yang dilakukan di National Dope Testing Laboratory di New Delhi, India, sebanyak

12 Atlet Gunakan Doping di PON XIX Jabar

BANDUNG, FOKUSJabar.com : Selain Jabar, ada enam daerah lain yang atletnya diduga menggunakan doping saat tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016. Berdasarkan hasil pemeriksaan sampel urine yang dilakukan di National Dope Testing Laboratory di New Delhi, India, sebanyak 12 atlet dinyatakan positif mengunakan doping. Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda (Disorda) Provinsi Jawa Barat, Yudha M Saputra menuturkan, hasil pemeriksaan sampel urine di India tersebut disampaikan oleh Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) kepada Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan sebagai Ketua Umum PB PON XIX/2016. Dan untuk penyampaian atlet-atlet yang terkena doping berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut akan diumumkan oleh KONI Pusat, Kemenpora, LADI, dan Ketua PB PON XIX/2016 Jabar. "‎Selain Jabar, ada enam provinsi lain yang atletnya diduga mengkonsumsi zat yang mengandung doping. Yakni Riau, Bangka Belitung, Bengkulu, Kalimantan Timur, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Nanti tim LADI akan melakukan klarifikasi ke setiap atlet dan daerah yang tersangkut," ujar ‎Yudha saat ditemui di kantor Disorda Jabar, Jalan Dr Radjiman Kota Bandung, Selasa (29/11/2016). [caption id="attachment_243361" align="aligncenter" width="715"] Yudha saat ditemui di kantor Disorda Jabar, Jalan Dr Radjiman Kota Bandung, Selasa (29/11/2016). (Ageng/FJ)[/caption] ‎Yudha menambahkan, permasalahn doping selalu terjadi pada setiap penyelenggaraan multieven olahraga seperti PON. Sebelumnya, pada PON 2012 di Riau ditemukan sebanyak 8 kasus dan pada PON 2008 di Kaltim terjadi sebanyak 5 kasus. ‎"Ini harus disikapi untuk pelaksanaan PON mendatang. ‎Ada beberpa faktor yang menyebabkan ini terjadi, apakah karena ketidaktahuan, ketidaksengajaan‎, atau unsur kesengajaan karena atlet tidak percaya diri. Kita dari PB PON XIX selalu menyampaikan ‎jika ada zat adiktif yang baru pada setiap kesempatan. ‎Jadi kalau alasan tidak tahu, rasa-rasanya tidak mungkin," tegasnya. (Ageng/DEN)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA