Sukses Sutradara Film dari Profesi Wartawan (Bagian III)

Oleh Yoyo Dasriyo (Anggota PWI Garut, Wartawan senior film dan musik) Didedikasikan untuk Hari Pers Nasional 9 Februari nbsp Dalam era sinetron, Franky yang berpredikat Aktor Pendatang Baru Terbaik 1967 dari film Fadjar Di Tengah Kabut ,

Sukses Sutradara Film dari Profesi Wartawan (Bagian III)

Oleh: Yoyo Dasriyo (Anggota PWI Garut, Wartawan senior film dan musik) *Didedikasikan untuk Hari Pers Nasional 9 Februari   Dalam era sinetron, Franky yang berpredikat “Aktor Pendatang Baru Terbaik” 1967 dari film “Fadjar Di Tengah Kabut”, masih sempat eksis sebagai pelakon. Terbukti, kreasi mantan wartawan di media film, banyak yang layak dibicarakan. Kesungguhan untuk berkarya film bergengsi, bukti dari kemampuan membingkai kebutuhan segala aspek filmisnya. Ingat pula reputasi (alm) Cholil Hasnan Manan, yang kondang dengan nama Ch Has Manan. Mantan wartawan dan redaktur Harian “Pelopor Baru” dan Majalah Sport & Film “Aneka” itu, lebih senior dibanding Arizal, Franky Rorimpandey maupun Ismail Soebardjo. Berangkat dari film “Bermalam Di Solo” (1962), Has Manan merintis kariernya sebagai sutradara. Prestasinya dikuatkan dengan larisnya film “Bing Slamet Setan Jalanan”, dan sejumlah film komedi lain berbintangkan group Kwartet Jaya itu. Sutradara berwajah dingin itu pula, yang menggarap film-film banyolan Ateng-Iskak. Sukses film “Ateng Sok Tahu” dikukuhkan dengan Piala Antemas di FFI 1977 Jakarta, sebagai simbol pengakuan film terlaris tahun 1976-1977. Tema drama suspence dan komedi, menerbitkan spesifikasi ketangguhan film Has Manan untuk diperhitungkan. Itu menguat sejak film “Pemberang” di FFI 1973 Jakarta, meraih Piala Citra “Aktor Pendukung Utama Terbaik” (alm Dicky Zulkarnaen), penghargaan khusus bagi Dewi Rosaria Indah (Aktris Cilik Terbaik), serta menempati peringkat film terbaik kedua, setelah “Perkawinan” (Wim Umboh). Lagi-lagi Has Manan harus puas di tempat kedua, manakala film “Rio Anakku” bersaing ketat dengan “Cinta Pertama” di FFI 1974 Surabaya. Film kedua dari (alm) Teguh Karya, yang membuka awal kehadiran Christine Hakim. Kecuali itu, film “Rio Anakku” menempatkan Has Manan sebagai “Sutradara Terbaik II”. Dari penyutradaraan mantan redaktur itu, (alm) Kusno Soedjarwadi dan Lenny Marlina, berpredikat “Aktor & Aktris Terbaik Dengan Penghargaan”, serta “Aktor Cilik Terbaik” untuk Rano Karno. Film lainnya, “Anna Maria” menjaringkan Marini dan (alm) Ryan Hidayat, ke peringkat nominator aktor/aktris terbaik di FFI 1980 Semarang. Siapa pula tak kenal film komedi Warkop DKI (Dono-Kasino-Indro)? Arizal sutradaranya, juga mantan wartawan. [caption id="attachment_24043" align="aligncenter" width="460"] Sebuah adegan film “Deru Campur Debu” yang membintangkan Dewi Rosaria Indah dan (alm) Arman Effendy (1972). Film ini karya pertama (alm) Mardali Syarief, sang sutradara film berlatar profesi wartawan. (Dokumentasi Gamanti)[/caption]   Karya filmnya “Pintar-Pintar Bodoh” dan “Maju Kena Mundur Kena” merebut Piala Antemas - lambang film terlaris di FFI 1982 Jakarta, dan FFI 1984 Yogyakarta. Arizal lalu identik sebagai sutradara spesialis film komedi slap-stick! Tetapi mantan wartawan Majalah “Aneka Minang” itu, sebenarnya sutradara serba bisa. Film drama selembut “Setulus Hatimu” karya lainnya, mendongkrak reputasi (alm) Tanty Yosepha sebagai “Aktris Terbaik” FFI 1975 Medan. Arizal pun pembuat film laga “Membakar Matahari”, “Jaka Sembung Dan Bergola Ijo” maupun “Segi Tiga Emas”. Bahkan lebih spesifik lagi, Arizal dikenal sebagai sutradara tercepat dalam mengerjakan filmnya. Sungguhpun begitu, tak semua mantan wartawan sukses jadi sutradara film komersial. Jauh sebelum meluncurkan film “Kafir” dan “Peti Mati”, Mardali Syarief belum beruntung dalam beberapa filmnya terdahulu. Begitu pula (alm) Chaidir Rachman, (alm) Motinggo Boesje, Bazar Kadarjono maupun H.Usman Effendy. Karya film mereka belum sukses dalam takaran komersial! Kejuangan (alm) Boesje wartawan Majalah “Caraka” dan “Aneka Minang”, yang kondang sebagai novelis panas, ditandai dengan film “Biarkan Musim Berganti”. Potensi Boesje sebagai sutradara film, mulai dipujikan dengan film “Cintaku Jauh Di Pulau” dan “Tak Kan Kulepaskan”. Karya Bz Kadarjono sedikit lebih beruntung dengan film “Cincin Berdarah”, yang merebut selera pasar film mistik. Usman Effendy dengan filmnya “Cinta Anissa, masih sulit memenangkan persaingan, di tengah arus film-film panas! Memang, faktor keberuntungan tak bisa dihitung secara matematik. (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA