“Perawan di Sektor Selatan” dari Purwakarta (3)

Oleh Yoyo Dasriyo FOKUSJabar. Fatimah mendadak jadi misteri, yang memainkan emosi penonton filmnya. Kecemasan memasung Kapten Wira dan Lahardo. Banyak kesaksian terumbar, Fatimah pernah berniat menghianati perjuangan, karena dendam atas pejuan

“Perawan di Sektor Selatan” dari Purwakarta (3)

Oleh: Yoyo Dasriyo FOKUSJabar.“Fatimah” mendadak jadi misteri, yang memainkan emosi penonton filmnya. Kecemasan memasung Kapten Wira dan Lahardo. Banyak kesaksian terumbar, “Fatimah” pernah berniat menghianati perjuangan, karena dendam atas pejuang yang menewaskan ayahnya. Sejak kehadiran perawan indo sebagai laskar palang merah, markas persembunyian pejuang gerilya selalu diketahui musuh. Tudingan sebagai mata-mata Belanda, lalu terfokus ke “Fatimah”. [caption id="attachment_88080" align="aligncenter" width="478"] Shanty dalam sebuah adegan film parodi perjuangan “Laskar Pemimpi”, karya Monty Tiwa (2010). Kecantikan atmosfer film dan dukungan massal pendukungnya menjanjikan tontonan yang menarik. Meski dikemas dengan formula komedi, film ini terhitung apik dalam penggarapannya(Foto Istimewa)[/caption] Namun tudingan sumbang itu berbalik penuh tanya, manakala serdadu Belanda menangkap perawan itu. Problematik pun makin runyam. Misteri lalu terpecahkan, ketika perempuan lain bernama “Fatimah” yang menyusul adiknya ke medan perjuangan, diketahui sudah berada kembali di rumahnya. Memang sejak hadir di medan perjuangan, “Fatimah” indo mengaku mencari adiknya. Opini penonton film pun terbentuk, perawan itu dipastikan mata-mata Belanda! Tanda tanya tentang “Fatimah”, terlukis dalam dialog pendek “Sersan Rangga” (Dicky Zulkarnaen), yang memburu perawan itu di sebuah bangunan sunyi dan kosong. “Fatimah…, siapa kamu sebenarnya?”  Ternyata, penghianat itu bukan “Fatimah”. Di luar dugaan para pejuang. Lahardo murka. Musuh dalam selimut itu, tangan kanannya (alm Fred Wetik), yang  diketahui jadi mata-mata. Bangunan drama film ini begitu kental. Ending lakon memotret padamnya bara dendam “Fatimah”, karena kekuatan cintanya ke Sersan “Rangga”. Perempuan indo itu berbalik menyemangati para pejuang kemerdekaan. “Fatimah” sang “Perawan di Sektor Selatan”, jadi bunga di medan perang. Secara tematis penceritaan, “Perawan” memiliki magnetis dengan bangunan drama yang memikat. Harga yang pantas, saat “Perawan” menuai predikat “Film Favourite” di FFA (Festival Film Asia) ke-18 di Korea (1972). Kesungguhan Alam Surawidjaya dalam menggarap “Perawan di Sektor Selatan”, sukses menghadirkan karya film terbaiknya yang layak dibanggakan. Sutradara film kampiun itu mampu membangun keutuhan semua karakter tokoh ceritanya. Kebebasan dalam merangkai dramatik “Perawan”, apik dan tuntas. Alur lakon dan informasi setiap tokohnya, mengalir tanpa beban. Itu mengunggulkan “Perawan” dari dua film perang karya Alam Surawidjaya kemudian; “Bandung Lautan Api” dan “Janur Kuning”. Terlebih, karena kedua sosok lain film perjuangan itu berdaya semi-dokumenter! Betapa terasa, “Perawan di Sektor Selatan”  lebih menjual pendalaman konflik dramatik, berkait physik dan psikologis. Sebuah tema drama berlatar perjuangan, yang langka diproduksi. Potret “seting” seputar alam Purwakarta, disajikan dalam tata-gambar yang sejiwa dengan iklim revolusi. Terdukung lagi dengan tata musik N Simanungkalit, memantapkan atmosfer peperangan. Bentangan panjang jembatan kereta api di atas tebing curam kawasan Cisaat, dihadirkan dengan daya klasik tinggi. Bangunan kuno peninggalan Belanda itu, menebalkan kekayaan artistik untuk kekuatan seting filmnya. Dukungan hasil kerja seni penata artistik, (alm) Fred Wetik, seniman kampiun dalam kaidah dekorasi film, menguatkan kadar seni secara keseluruhan. Kawasan kering pabrik kapur Padalarang, dan perkampungan Cibungur Purwakarta yang jadi  pusat lokasi syutingnya, memantapkan wajah film perjuangan ini. Memang, Alam Rengga Surawidjaya pantas bergelar “sutradara spesialis film perang”, karena “Perawan di Sektor Selatan” memiliki tekstur filmis yang amat membanggakan. Hanya saja kecantikan filmnya, terganjal kelambanan di awal keberangkatan lakonnya. Dialog perwira Belanda berkepanjangan, dan terkesan membosankan. Semua pesona filmnya seolah tersembunyi. Namun keindahan “Perawan di Sektor Selatan”, lalu tergelar dalam film yang menawan ***   (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA