Menelusuri Sate Kambing Terbaik di Bandung (Bagian I)

Oleh Muhammad Sufyan Health food make me sick (Calvin trillin, Penulis Amerika Serikat) Makanan sehat membuatku sakit Terlebih Bandung adalah salah satu sentra kuliner dengan kandungan konten tak sehat betul, semacam lemak berlebihan. Kali ini, penul

Menelusuri Sate Kambing Terbaik di Bandung (Bagian I)

Oleh: Muhammad Sufyan Health food make me sick! (Calvin trillin, Penulis Amerika Serikat) Makanan sehat membuatku sakit! Terlebih Bandung adalah salah satu sentra kuliner dengan kandungan konten tak sehat betul, semacam lemak berlebihan. Kali ini, penulis akan bahas sate-sate kambing/domba klasifikasi jagoan di Bandung. Maksudnya, bauran aneka sate kambing, yang setidaknya menurut saya, merekalah yang terenak. Kualitatif juga, artinya fulus yang keluar sebanding nikmatnya. Baiklah, kita klasifikasikan dua hal. Pertama, sate kambing makanan (kurang sehat) dengan olahan higienis, berharga mahal, namun sensasi kurang. Kedua, sate kambing makanan (kurang sehat) dengan olahan tak terlalu higienis, berharga terjangkau, sehingga sensasi tinggi. Pada golongan pertama, kawan pembaca FOKUS, mari coba sate Gino Sidareja di Jl Sunda & Jl Supratman, Sate Maulana Yusuf Jl Maulana Yusuf, Sate H.M Harris Jl Asia Afrika, serta Sate Hadori Jl Stasiun Bandung. Keempatnya selalu menawarkan daging olahan terbaik. Bukan sekedar daging ranum kambing kurang umurnya dari satu tahun, pedagang disini amatlah peduli dengan rupa bentuknya. Jadi, kalau daging dalam atau lemak paha yang diambil, hanyalah yang paling bagus bentuk, rupa, maupun baunya. Karenanya, takaran serba sempurna.   [caption id="attachment_14201" align="aligncenter" width="460"] Sate kambing Maulana Yusuf, Jl Maulana Yusuf  (Foto: surgamakan.wordpress.com)[/caption]   [caption id="attachment_14202" align="aligncenter" width="460"] Sate Kambing Harris, Jl Asia Afrika. (Foto: sister2kitchen.wordpress.com)[/caption] Saat bagian daging digigit, terasalah empuk. Tak sulit kunyah-kunyah. Demikian juga otomatis lemak menjalar lidah. Sensasi lelehan lemak yang memberi selingan rasa, akan muncul tanpa menimbulkan rasa kerak di atap mulut kita. Tak ada pula rasa bau menyengat saat 'menghajarnya'. Penulis sulit memilih kualitas daging mana yang terbaik di antara mereka. Tampaknya, semua sangat peduli dengan kualitas mamalia bergigi dewasa 32 buah itu. Prediksi saya, mereka hanya menusuk sate dari daging yang disembelih pada hari itu juga. Segar. Tak ada istilah daging kemarin. Mereka juga tak begitu kreatif. Maksudnya, umumnya hanya menawarkan sate kambing standar daging paha plus lemaknya. Yang ada variasi hanya Sate Hadori saja, dengan menawarkan pula sate hati daging dari binatang yang punya kandungan susu 19-38 liter ini. [caption id="attachment_14203" align="aligncenter" width="449"] Proses pengolahan daging kambing muda di Sate Hadori di Stasiun Selatan. (Foto: Cityclick.com)[/caption] [caption id="attachment_14204" align="aligncenter" width="460"] Sate Gino Jl Sunda, samping rel kereta. (Foto:joyceyusriani.wordpress.com)[/caption] Beralih ke soal bumbu. Nah, ini yang unik. Para pemilik kedai, yang tak semuanya berkumis, memang rata-rata menawarkan bumbu kacang. Tapi ada sentuhan berbeda. Jika makan Sate Hadori, bumbu kacang itu dipadu kecap khusus berbau zaman dulu yang tak mudah dibeli sembarangan. Lidah orang generasi anyar, awalnya akan terasa aneh. Apa pasal? Kecap tersebut tidaklah manis sejati kecap reguler. Ada rasa kecut juga, namun lama kelamaan, setelah tandas gigitan sate kedua misalnya, barulah terasa wajar kenapa sate ini yang dipilih Muhammad Hadori sejak dulu. Di Sate Gino, bumbu kacang ditumbuk halus plus kecap zaman kiwari. Yang beda di tempat ini adalah acarnya. Enak betul, terasa bahwa irisan timun, bawang merah, plus cabai rawitnya diolah serius dengan cuka terbaik, sehingga menambah nikmat kala makan ternak famili Ovis Aries ini. Jika hendak makan yang jago betul bumbu kecapnya, maka pantaslah dipilih yang di Jl Maulana Yusuf. Olahan kacangnya betulan ditumbuk halus dan tidak bikin enek pasca makan. Khusus Sate HM. Haris, bumbunya terasa standar saja. Nothing special. Keempat warung itu, juga, amboi bener! Mereka selalu memampangkan proses balik dapurnya. Jadi, jejeran paha kambing plus kegiatan tusuk-menusuk sate, bisalah ditengok pengunjung. Rasanya, mereka lebih transparan berusaha dari kita-kita. Berapa soal harga? Yah, namanya olahan terbaik dengan konsistensi cita rasa waktu ke waktu, maka seporsi sate di empat tempat ini semuanya di atas Rp25.000. Untuk sepuluh tusuk sate terbaik hewan subfamili Caprinae ini, wajarlah keluar duit lebih untuk kepuasan sepadan. Ayo coba khasanah kuliner Bandung! (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA