Kejayaan Bintang Tasikmalaya: (Habis) Tokoh di Balik Ketenaran Roy Marten

Oleh Yoyo Dasriyo KEMANTAPAN reputasi (alm) Deddy Damhudi, terdukung dengan sukses lagu Peluklah dan Lepaskan dan Jatuh Cinta . Semua lagu kejayaannya, jadi legenda dalam tembang pop Indonesia. Deddy Damhudi pun artis serba bisa. Pernah berkar

Kejayaan Bintang Tasikmalaya: (Habis) Tokoh di Balik Ketenaran Roy Marten

Oleh: Yoyo Dasriyo KEMANTAPAN reputasi (alm) Deddy Damhudi, terdukung dengan sukses lagu “Peluklah dan Lepaskan” dan “Jatuh Cinta”. Semua lagu kejayaannya, jadi legenda dalam tembang pop Indonesia. Deddy Damhudi pun artis serba bisa. Pernah berkarier di pentas lawak, film dan sinetron. Aktingnya terbingkai di film komedi musikal “Ambisi” karya (alm) Nya’ Abbas Akup (1974). Di awal booming sinetron, Deddy berperan penting dalam lakon miniseri “Getar Dawai Hati”. [caption id="attachment_81116" align="aligncenter" width="450"] AKTING Farida Pasha dalam film laga “Sona Anak Srigala” (1985). Aktris film ini memanjangkan kesuksesan kariernya dengan peranan antagonis.(Dokumentasi: YODAZ)[/caption] Semasa menetap di Tasikmalaya, Deddy Damhudi pernah aktif sebagai pelawak bersama (alm) Ujang Rukmana. Pelawak ini lalu mendukung grup “De Kabayan”, mendampingi Kang Ibing, Aom Kusman, Suryana Fatah dan Wawa Sofyan, yang semuanya sudah tiada. Di luar lumbung artis dangdut, ternyata Tasikmalaya subur dengan artis pelawak. Nama lainnya, (alm) Sup Yusup, dan (alm) Sol Saleh, yang dikenal dengan sukses grup lawak S Bagyo. Namun siapa sangka, jika kejayaan Roy Marten di dunia perfilman, sangat terdukung insan Priangan? Di balik akting Roy Marten, justru Achmad Nugraha kelahiran Tasikmalaya berdarah Garut Selatan, tampil sebagai dubber (pengisi suara). “Abdi ge sami ti Garut, mung pakidulan. Ti Bungbulang! Pun aki sareng wargi-wargi abdi ge masih di Bungbulang,” ungkap lelaki simpatik dan bersahaja itu, dalam pertemuan sekilas di “Grand Sahid Jaya Hotel” Jakarta. Sebagai pekerja seni di balik layar, sosok Achmad Nugraha tidak banyak dikenal. Tetapi dubber ini pernah tampil di film-film populer seperti “Kenangan Desember”, “Rembulan dan Matahari”, “Petualang-Petualang”, “Jakarta 66” dan “Serangan Fajar”. Bahkan di film “Serangan Fajar”, Nugraha merangkap asisten sutradara mendampingi (alm) Arifien C Noer. Belum terhitung lagi puluhan sinetron, yang diperaninya masa kejayaan TVRI Pusat. Kefasihan Nugraha dalam menerjemahkan akting orang lain ke dalam suara, mampu menghidupkan puluhan peran yang dimainkan aktor Roy Marten. “Seueur pisan film Roy Marten, nu suantenna ku abdi mah,” kata Nugraha dalam bahasa Sunda yang akrab. Itu terjadi, sebelum juri Festival Film Indonesia (FFI) 1977 Jakarta menetapkan, tidak memberi penilaian untuk pemain utama dan pembantu utama, yang menggunakan suara orang lain. Memang profesi dubber film, kini tidak lagi selaris era 1970-an. Terlebih karena proses produksi film nasional, sinetron dan film televisi, menerapkan teknik direct-sound. Pengambilan gambar, sekaligus perekaman suaranya. Meski begitu, Achmad Nugraha masih banyak garapan pengisian suara untuk film animasi dan kartun. Orang film asal Tasikmalaya, tampil pula di balik kibar PT “Karnos Film”, pembuat sinetron ”Si Doel Anak Sekolahan”. “Saya mah asli dari Tasik atuh, ‘Kang! Nggak nyangka bakal nyasar ke dunia film…” kata H Nana Suryana, yang dikenal sebagai pimpinan produksi PT “Karnos Film” dari masa ke masa. H Nana mengaku bekerja dalam perusahaan film pimpinan H Rano Karno itu, sejak diajak aktor kampiun (alm) Soekarno M Noor, ayah Rano. “Waktu itu Rano masih kecil.! Jadi saya sudah merasa dekat sama keluarga Soekarno M Noor,” cerita H Nana Suryana di Bogor. Beralasan, jika dalam legenda sukses sinetron “Si Doel Anak Sekolahan”, dihadirkan pelakon yang berprofesi sebagai tukang kredit! H Nana melukiskan, peranan itu sebagai kenangan ke kampung halamannya, yang identik dengan penjual jasa kredit barang kebutuhan rumahtangga!. “Kalau saja Karnos Film jadi bikin sinetron Siti Hompimpah, saya memilih lokasi shooting di Singaparna. Sayang, produksi itu harus batal,” sesal H Nana Suryana kemudian. Artis lain asal Tasikmalaya yang bertandang di kancah sinetron, tercatat pula nama Rani Permata. Laju karier wanita dari Cihaurbeuti, Rajapolah, itu bersinar, setelah diperisteri Dicky Chandra, artis sinetron kelahiran Tasikmalaya yang berkampung halaman di Cigedug, Cikajang, Garut. Pria bernama lengkap R Diky Chandranegara itu, membukukan sejarah pertama sebagai Wakil Bupati Kab Garut, yang mengundurkan diri sebelum jabatannya berakhir. Dalam karier keartisan film, Rani Permata pernah menjabat Ketua PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) Korda Garut periode 2009-2012. Organisasi keartisan pertama tingkat kabupaten di Jawa Barat, yang berganti DPC PARFI Garut. Pasangan harmonis selebritis Tasikmalaya itu, kini mengelola PT “Diky Permata Visitama” di Cimanggis Bogor yang memproduksi film televisi. Hingga kini, pelaku keartisan asal Tasikmalaya masih bermunculan. Tentu saja, kehadiran Indra Brugman dalam era industri sinetron dan film televisi, diharapkan jadi penerus sukses keartisan asal Tasikmalaya. Reputasi gemilang para artis pendahulu asal “Kota Resik” itu, selayaknya dijadikan motivator untuk kejayaan generasi Indra Brugman. Memang kemenangan karier mereka di kemudian hari, dipertaruhkan sebagai pemanjang sejarah kejayaan bintang asal Tasikmalaya.(wdj)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA