Kejayaan Bintang Tasikmalaya: (2) “Ratu Vespa” Menjelma “Singa Betina”

Oleh Yoyo Dasriyo DENDANG bintang dangdut asal Tasikmalaya kian terpandang. Daya jual penyanyi dangdut di negeri ini makin menguat, dengan kehadiran Evy Tamala sang penembang sendu Selamat Malam . Namun sukses lagu ciptaannya itu, membuat karakteris

Kejayaan Bintang Tasikmalaya: (2) “Ratu Vespa” Menjelma “Singa Betina”

Oleh: Yoyo Dasriyo DENDANG bintang dangdut asal Tasikmalaya kian terpandang. Daya jual penyanyi dangdut di negeri ini makin menguat, dengan kehadiran Evy Tamala sang penembang sendu “Selamat Malam”. Namun sukses lagu ciptaannya itu, membuat karakteristik lagu Evy Tamala lainnya, berpaling dari warna terdahulu yang memikat, seperti “Dokter Cintaku”, “Tang-Ting-Tong-Der”, “Cinta Ketok Magic”, serta sejumlah lagu lain karya Muchtar B. Bangunan lagu “Rindu”, jadi cerminan Evy Tamala dalam menapak jejak sukses “Selamat Malam”. Sendu mendayu-dayu. Dendang khas Evy tak lagi menggemaskan. Apapun kenyataannya, Evy Tamala menegaskan pengakuan atas dominasi keartisan dangdut dari Tasimalaya, selepas Rhoma Irama, Itje Tresnawaty, Vetty Vera, dan Alam. Belum terhitung lagi dengan Kitty, dari Singaparna (“Manis Manja Group”), Cucu Cahyati, serta Delsy Machdar. Sangat disesalkan, pentas musik dangdut masih cenderung kental dengan goyang pinggul erotis. Tata busana penyanyinya berpamer kemontokan tubuh. Kondisi seperti itu makin sulit dikendalikan, sejak Inul Daratista menjual aksi goyang “nge-bor”! Terobosan gaya pentas dangdut pujian dari Itje Tresnawaty, Vetty Vera dan Alam, belum menyemangati aksi generasi penyanyi dangdut kekinian. Kritik dan protes pun, tak mengusik lagi kepedulian. Keartisan asal Tasikmalaya, membukukan pula kejayaannya di kancah perfilman nasional. Sebut saja Conny Suteja, aktris film dekade 1960-an, yang masih dikenal dengan aksen Sunda-nya. Mantan “Ratu Vespa” Tasikmalaya itu menandai kariernya di film “Sang Dwi Warna” karya (alm) Nawi Ismail, waktu berlokasi shooting di Tasikmalaya. Sejumlah film bernuansa Betawi diperaninya seperti “Si Pitung”, “Banteng Betawi”, dan film-film banyolan (alm) Benyamin S. Semasa formula drama persilatan merebut pasar film nasional, Conny Suteja mencuat sebagai pendekar dalam kepopuleran film “Singa Betina Dari Marunda” karya (alm) Sofia WD. Aktris legendaris Tasikmalaya itu pula, yang pernah identik dengan tokoh “Ibu Hebring”, dari sukses drama-seri “Pondokan” di TVRI-Pusat (1987). Adik kandung Conny pun, Cucu Suteja, dikenal sebagai juru kamera film, hingga tampil menjabat produser dan sutradara. Jangan lupakan pula nama Farida Pasha. Sang pelakon “geulis” blasteran Pakistan, yang mencuat dalam tokoh berkarakter antagonis. Farida Pasha yang pernah bersuamikan warga Garut, memiliki kekuatan dalam pemeranan bengis. Harga yang pantas, jika reputasinya tegak dalam sejumlah peran jahat, seperti di film “Penangkal Ilmu Teluh”, “Guna-Guna Isteri Muda”, hingga mengental dengan figur “Mak Lampir” di film legenda “Misteri Dari Gunung Merapi”. Dalam kondisi kekinian, belum lahir lagi artis film asal Tasikmalaya, yang berdaya akting seperti Farida Pasha. Kalaupun Ussy Firdausy, yang pernah dibintangkan di sinetron “Srikandi”, tampil antagonis dalam banyak sinetron lainnya, tetapi peran galak “Ussy” belum sebanding dengan pendahulunya! Delsy Machdar, kakak kandungnya, pernah meramaikan bursa Pop Sunda, dan membintangi sederet sinetron. Mereka kini bersibuk sebagai ibu rumahtangga. Sebenarnya, Ussy Firdausy Machdar yang meniti kariernya sejak kecil, dalam sinetron miniseri “Tunas Harapan” (TVRI-Pusat), berpotensi jadi bintang. Terlebih, ketika Ussy disiapkan berperan sebagai (alm) Nike Ardilla kecil, di film “Bintang Kehidupan” (1997). “Puguh ‘Eneng’ mah nggak nyangka bakal main sinetron teh... Habis, semula mau jadi penyanyi seperti ‘Teh Delsy’” kata Ussy suatu malam, melalui telepon dari Jakarta. Namun laju karier Ussy Firdausy, layu sebelum berkembang! Bukan hanya Ussy, prospek keartisan Tasikmalaya yang menjanjikan dari kehadiran Nila Karlina, Nila Sari dan Cut Irna pun berbatas kesibukan berumahtangga. Nila Karlina artis cantik bertubuh semampai, pernah tampil dalam beragam sinetron hingga film “Bendi Keramat”. Ingat pula nama Nila Sari, artis jenjang pelantun lagu “Ingin Memeluk Dirimu” (Deddy Dores) di pentas musik slow rock. Kedua artis potensial berparas cantik yang bernama depan Nila itu, hilang dari keartisan. Kelangsungan karier Cut Irna pun, lady-rocker generasi (alm) Nike Ardilla, terhenti di tengah jalan. Kecuali sebagai penyanyi, Cut Irna pernah pula dibintangkan di film “Gadis Foto Model” (1988) karya S Marcus, bersama Anneke Putri, Conny Suteja, dan Nike Ardilla. Sepeninggal Nike, pernah muncul Elisa dari Cicarulang-Singaparna, yang mengadu nasib di kancah slow rock. Mereka memanjangkan daftar keartisan asal Tasikmalaya, setelah sukses (alm) Deddy Damhudi di pentas musik pop. Kepopuleran lagu “Gubahanku” karya Gatot Sunyoto, jadi peninggalan sukses Deddy Damhudi (1974). Biduan bersuara lembut itu pula, yang dikenal dengan kemasyhuran lagu pop romantis “Aku Terkenang Selalu”, “Kasih Di Bulan Agustus”, “Selamat Tinggal Sukabumi” (1966), iringan Band Zaenal Combo pimpinan (alm) Zaenal Arifien. (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA