Berpacu Berita Aktual Dalam Budaya Interlokal (Bagian I)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Suatu siang, sejumlah wartawan muda di Garut tertawa. Mereka tak percaya, jika proses pengiriman berita dari wartawan daerah, pernah berpacu melalui interlokal. Itu serpihan keprihatin

Berpacu Berita Aktual Dalam Budaya Interlokal (Bagian I)

Oleh Yoyo Dasriyo (Wartawan senior film dan musik, Anggota PWI Garut) Suatu siang, sejumlah wartawan muda di Garut tertawa. Mereka tak percaya, jika proses pengiriman berita dari wartawan daerah, pernah berpacu melalui interlokal. Itu serpihan keprihatinan hari kemarin, yang kini justru manis dalam kenangan. Bahkan, terkadang menggelitik tawa. Masa pengiriman berita via pesawat telepon, memang bagian nostalgia pelaku profesi wartawan media cetak harian di daerah. Itu pula abad kecanggihan alat telekomunikasi masa lampau, yang kini berbalik menggelikan. Pada masanya, keterbatasan dan kesederhanaan telekomunikasi seperti itu, betapapun pernah bernilai canggih dan membanggakan. Manakala roda kemajuan terus berputar, modernisasi tempo doeloe pun membekaskan cerita keprihatinan. Kebanggaan masa lalu, tak mampu menepis hukum dalam sebutan ketinggalan zaman! Tentu saja, karena proses pengiriman berita untuk media cetak harian, kini makin dijemput layanan kemudahan dan kecepatan. Kalaupun naskah berita masih dikerjakan dengan mesin tik, tetapi sudah bisa diluncurkan melalui jasa faksimil. Formula itu seumpama fotocopy antar-kota yang tergelar di kantor Telkom atau di banyak lokasi wartel. Praktis! Pada detik yang sama, kiriman berita bisa tiba di redaksi. Biayanya jauh lebih enteng, dibanding menggunakan jasa interlokal. Belum juga tamat kejayaan abad faksimil, lalu hadir duet era-komputerisasi dan jasa internet. Selesai sudah kisah panjang ketergantungan pengiriman berita, pada layanan jasa kantor pos hingga faksimil.... Para pelaku profesi wartawan, yang berkirim berita harian ke media cetak di Bandung atau Jakarta, lalu menjalin kemitraan dengan layanan jasa warung internet. Pesatnya penerapan Iptek bidang telekomunikasi, makin melicinkan jalan tempuh para wartawan, dalam proses berkirim berita dan foto. Kehadiran abad internet, lebih memukau lagi! Naskah berita dan foto terkirim lewat satelit. Tak hanya makin cepat, dan lebih mendekatkan jarak kontribusi pemberitaan dari daerah. Biaya kirim pun lebih rendah, dibanding jasa faksimil!   [caption id="attachment_27532" align="aligncenter" width="460"] Yoyo Dasriyo dan laptop. Tiada lagi bunyi klasik dari mesin tik. Proses kirim berita dan foto, bisa langsung dikirim dari ruangan kerja. Itupun selama speedy tak bermasalah. (Foto: M Machfudin)[/caption]     Sungguhpun begitu, pengiriman berita melalui telepon, pernah jadi tumpuan dalam persaingan tugas kewartawanan. Bagaimana repotnya mengirim berita ke media cetak, yang berproses melalui jasa telepon? Itu bukan lelucon! Justru kenyataan yang menggelitik orang menertawai kecanggihan masa lalu. Tidak seorang wartawan pun membayangkan, jika budaya interlokal berita akan terkubur era faksimil dan internet. Secepat itu, formula kemasan berita dalam bentuk disket, mengembang berganti CD dan flash-disk, yang hanya tinggal dilepas ke alamat e-mail. Jauh berbeda dengan pekerjaan wartawan sebelum era faksimil maupun internet, yang bertaruh pada budaya interlokal! Pada era 1980-an, kebijakan redaksi suratkabar harian di Jakarta, tempat saya bekerja, menetapkan berita yang harus dikirim melalui interlokal hanya berita penting, bernilai aktual dan layak-jual. Kunjungan pejabat tinggi setingkat menteri atau gubernur, tragedi berikut bencana alam atau musibah lalulintas yang menewaskan banyak korban manusia, termasuk jenis berita prioritas wajib interlokal. Namun penggantian biaya interlokal berita, hanya bisa dicairkan jika dibuktikan dengan berkas resi pembayarannya. Itupun selama materi beritanya terjaring, ke dalam kriteria yang diberlakukan. Sistem itu pula yang memicu wartawan generasi lama, untuk pandai memilih berita layak interlokal, dan yang cukup dikirim melalui jasa kantor pos. Ada romantika tersendiri yang memprihatinkan wartawan, dalam memenangkan persaingan memburu dead-line berita di kantor redaksi. Begitu selesai mengetik dan mengoreksi naskah berita, mereka bergegas ke kantor Telkom di pusat kota kabupaten, atau kota kecamatan. (Bersambung)

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA