Thailand alami perlambatan ekonomi paling parah

Ekspor dan pariwisata negara itu memburuk karena pengaruh perang dagang Amerika Serikat –China

Thailand alami perlambatan ekonomi paling parah

Perekonomian Thailand mengalami laju paling lambat dalam hampir lima tahun, di kuartal kedua karena ekspor dan pariwisata yang memburuk akibat perdagangan Amerika Serikat-China dan mata uang baht yang kuat.

Produk domestik bruto naik 2,3 persen dari tahun lalu, turun dari 2,8 persen dari kuartal pertama, ujar Dewan Pengembangan Ekonomi dan Sosial Nasional (NESDC) pada Senin.

Angka ini adalah laju paling lambat sejak kuartal ketiga 2014. Ekspansi ini sejalan dengan estimasi median 2,3 persen dalam survei ekonom Bloomberg.

Badan perencanaan negara, berdasarkan data April-Juni akan mengurangi prediksi pertumbuhan 2019 menjadi 2,7 persen hingga 3,2 persen, lebih rendah dari perkiraan Mei yang mencapai 3,3 persen hingga 3,8 persen. Angka pertumbuhan ekspor tahun ini juga menyusut 1,2 persen, tidak lagi tumbuh 2,2 persen.

Perlambatan baik di dalam negeri dan luar negeri mempengaruhi pertumbuhan kuartal ini, ujar sekretaris jenderal NESDC Thosaporn Sirisumphand.

Perang perdagangan AS-China, ketidakpastian global dan kemarau panjang tetap menjadi risiko meski pemerintah telah memberikan paket stimulus. Namun potensi investasi dari perusahaan yang pindah dari China di tengah perang perdagangan sebenarnya dapat membantu kondisi perekonomian, ujar dia.

Stimulus lebih lanjut bisa saja dilakukan pemerintah, termasuk langkah-langkah yang berfokus pada peningkatan investasi dan pariwisata, kata Thosaporn.

Pemerintah kemungkinan juga akan meningkatkan investasi melalui pengeluaran publik dan belanja perusahaan-perusahaan negara, kata dia.

Charnon Boonnuch dari Nomura mengatakan dia memperkirakan pertumbuhan semester kedua akan naik menjadi 3,4 persen dari 2,6 persen, dibantu oleh pelonggaran kebijakan fiskal dan moneter.

Tetapi karena ekonomi semakin bergantung pada permintaan eksternal, sulit bagi kebijakan dan tindakan seperti itu "untuk benar-benar membuat dampak signifikan pada ekonomi yang melambat," kata Kobsidthi Silpachai, kepala penelitian pasar modal Kasikornbank.

Laju pertumbuhan April-Juni dipengaruhi oleh kegiatan pariwisata dan konsumsi domestik.

Pada April-Juni, konsumsi swasta naik 4,4 persen dari tahun sebelumnya dan investasi swasta naik 2,2 persen, sementara konsumsi publik naik 1,1 persen yang disebabkan oleh keterlambatan pembentukan pemerintah setelah pemilihan Maret.

Pertumbuhan tahunan jumlah wisatawan asing melambat menjadi 1,1 persen pada kuartal Juni dari 1,8 persen periode sebelumnya.

Dengan meningkatnya risiko terhadap pertumbuhan, inflasi yang ringan, dan baht yang kuat, sebagian besar ekonom memperkirakan Bank Thailand akan memangkas suku bunga utamanya akhir tahun ini setelah pelonggaran kejutan pada 7 Agustus.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA