Sri Mulyani: Tahun 2020 dan berikutnya adalah periode menantang

Banyak negara besar dunia saat ini cenderung mengalami potensi resesi, di antaranya Jerman, Singapura, Argentina, Meksiko, dan Brazil

Sri Mulyani: Tahun 2020 dan berikutnya adalah periode menantang

Kementerian Keuangan menegaskan bahwa tahun 2020 dan tahun-tahun berikutnya akan menjadi periode yang menantang, terutama terkait dinamika perubahan ekonomi dunia yang terus bergerak.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan dinamika perubahan ekonomi global terkait dengan normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat, fluktuasi harga komoditas, perang dagang dan proteksionisme, moderasi pertumbuhan di Tiongkok, maupun keamanan dan geopolitik dunia.

“Kondisi tersebut diperkirakan dapat berpengaruh terhadap nilai ekspor Indonesia, membuat volatilitas dari nilai tukar maupun aliran modal, dan biaya utang yang meningkat,” ungkap Menteri Sri Mulyani dalam keterangan resmi, Selasa.

Menurut dia, kondisi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti banyak negara besar dunia yang saat ini cenderung mengalami potensi resesi, di antaranya Jerman, Singapura, Argentina, Meksiko, dan Brazil.

“Selain resesi, muncul juga permasalahan di Eropa terkait dengan Brexit, serta perang dagang antara Amerika dan China yang masih berlanjut tetap menjadi hal yang perlu diwaspadai,” tambah Menteri Sri Mulyani.

Menteri Sri Mulyani menambahkan munculnya potensi perang dagang di negara Asia antara Jepang dan Korea serta potensi kontraksi ekonomi India yang menjadi salah satu penggerak ekonomi di antara negara berkembang.

“Dari faktor pembuatan kebijakan, kenaikan dan pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika (The Fed) menjadi sesuatu yang tetap perlu diperhatikan serta ketidakpastian arah kebijakan beberapa negara akibat meningkatnya tensi politik dan geopolitik,” jelas Menteri Sri Mulyani.

Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa terdapat tantangan natural seperti pergantian iklim yang tidak menentu serta meningkatnya kasus kebakaran hutan di banyak negara termasuk Indonesia yang secara langsung telah mengganggu aktivitas ekonomi secara luas.

Sedangkan dari sisi internal, ada beberapa tantangan menarik baik bersifat temporer dan fundamental struktural.

“Kondisi iklim yang tidak menentu sebagaimana terjadi di dunia yang cenderung bersifat ekstrem khususnya musim kemarau panjang mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan di beberapa pulau utama di Indonesia termasuk potensi terjadinya gagal panen,” jelas dia.

Tantangan temporer lainnya menurut dia adalah adanya siklus politik termasuk potensi konflik di daerah.

Sementara tantangan yang bersifat fundamental umumnya menyangkut faktor produksi termasuk demografi penduduk, masalah urbanisasi, dan pertumbuhan kelas menengah yang semakin meningkat.

“Keunggulan dan terpenuhinya faktor produksi yang kompetitif sangat mendukung pergerakan Indonesia dari negara berpendapatan menengah bawah, menjadi negara berpendapatan menengah atas (upper middle income country),” imbuh dia.

Kemudian faktor lain yang menyangkut fundamental struktural adalah efisiensi dan produktivitas.

Kondisi ini terkait dengan ketersediaan infrastruktur serta kebijakan yang akan diambil dalam rangka meningkatkan kemampuan ekonomi untuk menghasilkan output, outcome, dan multiplier effect dengan penggunaan biaya yang efisien.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA