Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III bisa di bawah 5%

Meskipun terjadi defisit neraca perdagangan, Indonesia berharap sumber pertumbuhan ekonomi dari konsumsi rumah tangga dan investasi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III bisa di bawah 5%

Beberapa analis memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III tahun ini di bawah 5 persen akibat ketidakpastian perekonomian global dan juga hambatan domestik dari sisi ekspor dan investasi.

Direktur RIset Center of Reforms on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan III sebesar 4,95 persen hingga 5,05 persen.

“Ada kemungkinan sedikit di bawah 5 persen, karena ekonomi kita masih sangat didukung oleh konsumsi yang kontribusinya terhadap pertumbuhan mencapai 56 persen,” jelas Piter, dalam diskusi di Jakarta, Jumat.

Piter mengatakan meskipun ada defisit neraca perdagangan, namun Indonesia masih bisa berharap dari konsumsi dan investasi sehingga pertumbuhan ekonomi masih cukup baik.

“Secara musiman pertumbuhan akan membaik di Triwulan IV karena ada libur natal dan tahun baru dan biasanya siklus penurunan terjadi sampai September dan setelah itu mulai membaik,” imbuh dia.

Peneliti Senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Febrio Kacaribu mengatakan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III kemungkinan sebesar 4,9 persen dan sepanjang tahun sebesar 5 persen.

Pada 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan sedikit menguat menjadi 5,2 persen.

“Angka ini kita lihat berdasarkan tren perekonomian yang lagi berat gara-gara ekspor yang tumbuh negatif begitupun investasi yang diharapkan sebesar 6-6,5 persen tapi kini masih di bawah 6 persen,” jelas Febrio.

Kondisi lain yang memperberat perekonomian karena harga sawit dan batubara melemah serta perang dagang yang masih berlanjut sehingga berdampak pada penurunan harga komoditas.

“Di sisi lain, investasi kita underperform pada tahun ini dibanding 2017-2018 dengan porsi investasi kita 33 persen dari PDB,” kata dia.

Selanjutnya, Febrio mengatakan dari sisi produksi, sektor manufaktur masih berada di bawah 4 persen begitupun dengan sektor pertanian yang masih lemah akibat rendahnya harga sawit.

“Yang menolong itu sektor ritel karena orang masih beli baju dan sepatu sehingga pertumbuhan mendekati 5 persen,” imbuh dia.

Sektor lain yang membantu pertumbuhan adalah transportasi dan pergudangan, ICT, serta keuangan.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA