Pemindahan ibu kota akan perkaya pola lalu lintas penerbangan

Selama ini beberapa penerbangan dari Sumatera ke Kalimantan ataupun Sulawesi harus melalui Surabaya atau Jakarta terlebih dahulu

Pemindahan ibu kota akan perkaya pola lalu lintas penerbangan

JAKARTA 

PT Angkasa Pura II (AP II), perusahaan milik negara yang mengelola bandar udara di wilayah barat Indonesia, menilai rencana pemindahan ibu kota negara akan memperkaya pola distrubusi lalu lintas udara.

Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin mengatakan pola distribusi lalu lintas udara nantinya akan sangat berbeda.

Awaluddin mengatakan selama ini beberapa penerbangan dari Sumatera ke Kalimantan ataupun Sulawesi harus melalui Surabaya atau Jakarta terlebih dahulu.

Menurut dia, saat ini destinasi penerbangan dari dan menuju Kalimantan ke arah Sulawesi belum ada.

“Rute penerbangan di jalur tengah Khatulistiwa masih sangat terbatas karena masih harus lewat Surabaya atau Jakarta sehingga tidak efisien,” ungkap Awaluddin, di Jakarta, Senin.

Bahkan, penerbangan haji dari Kualanamu Medan juga harus melalui bandara Soekarno-Hatta sehingga tidak efisien.

“Lokasi geografis di utara tidak termaksimalkan. Kami melihat regulator punya peran untuk dorong operator bandara dan maskapai untuk menggairahkan pola traffic kita,” kata Awaluddin.

Awaluddin menjelaskan rute penerbangan saat ini masih sangat Jawa sentris. Konsep ibu kota baru dan pengembangan kawasan ekonomi khusus seperti Labuan Bajo, Mandalika, Belitung, dan Sei Manke bisa menjadi bagian untuk menggairahkan ekonomi dan pola lalu lintas udara.

Awaluddin menambahkan lalu lintas penerbangan saat ini masih didominasi dari dan menuju Jawa. Apabila ibu kota pindah, maka distribusi lalu lintas penerbangan akan lebih merata.

“Kami optimistis dengan posisi AP II yang akan terus menambah jumlah kepemilikan bandara dan jadi bagian untuk bertumbuh sehingga pola lalu lintas udara ini akan sangat berwarna,” ujar dia.

Saat ini AP II mengelola dua bandara di Kalimantan, yakni di Pontianak dan Palangkaraya yang menjadi alternatif ibu kota baru.

AP II mengelola bandara Palangkaraya selama 30 tahun dengan luasan 340 ha dan sangat berpotensi untuk dikembangkan.

Kapasitas bandara tersebut saat ini sebanyak 3 juta penumpang per tahun dan masih dapat menampung jumlah penumpang dengan jumlah tersebut hingga 7 tahun ke depan.

“Tinggal kita kembangkan luasan terminal dan masterplan bandara sudah ada sampai pengembangan ultimat terminal sudah ada,” jelas dia.

Awaluddin mengakui saat ini destinasi penerbangan di Palangkaraya masih terbatas, meskipun saat ini sudah menjadi penghubung lalu lintas penerbangan internal di Kalimantan dan menjadi feeder untuk lalu lintas dari dan menuju bandara besar ke daerah lainnya.

“Kalau kita lihat dengan kondisi nanti ke depan, Palangkaraya sama dengan Kalimantan lainnya yang memiliki potensi,” imbuh dia.


TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA