Pamor PLTU batu bara makin pudar di Asia Tenggara

Rencana Pembangunan PLTU batu bara pada 2019 merosot jauh

Pamor PLTU batu bara makin pudar di Asia Tenggara

Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang masih memulai konstruksi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara dalam enam bulan pertama di 2019, menunjukkan bahwa penggunaan energi ini mulai tidak populer, ujar laporan dari Global Energy Monitor (GEM), Kamis.

Dalam rilis yang diterima Anadolu Agency, rencana pembangunan PLTU batu bara yang memasuki tahap konstruksi hanya sebesar 1.500 megawatt (MW) lebih rendah dari pencapaian 2018 sebesar 2.744 MW.

Angka ini merosot secara drastis jika dibanding puncaknya konstruksi proyek ini pada 2016 lalu yang mencapai 12.920 MW.

Direktur Eksekutif GEM Ted Nace mengatakan jumlah kapasitas PLTU batu bara yang masuk tahap pra-konstruksi juga menurun sebanyak 52 persen, dari 110.367 MW pada pertengahan 2015 menjadi 53.510 MW pada pertengahan 2019.

“Proyeksi kelanjutan sebagian besar rencana pembangunan 53.510 MW yang tersisa dalam fase pra-konstruksi kemungkinan akan dibatalkan,” ujar dia.

“Di Asia Tenggara, sepertinya sekarang sudah semakin sulit untuk meyakinkan orang untuk menginvestasikan uang sebanyak itu."

Direktur Program Batubara GEM Christine Shearer mengatakan proyek PLTU batu bara menghadapi berbagai rintangan. Antara lain penolakan masyarakat karena khawatir dampak negatif proyek, adanya energi terbarukan yang semakin murah dan berkualitas.

“Lembaga keuangan juga mulai tidak membiayai semua proyek yang berhubungan dengan batu bara,” ujar dia.

Menurut dia, hingga tiga dari sepuluh PLTU terbesar di dunia ada di Asia Tenggara. Namun rendahnya tingkat konstruksi baru dan turunnya angka perencanaan pembangkit baru menunjukkan adanya tren baru.

"Proyeksi ekspansi PLTU batu bara di Asia Tenggara ternyata pamornya semakin surut," kata Nace.

Menurut GEM tren yang muncul di Asia Tenggara kini adalah peralihan dari batu bara menuju energi terbarukan.

Hal ini menurut GEM bisa dilihat dari ada lebih dari 110 lembaga keuangan membatasi pinjaman untuk PLTU batu bara, termasuk DBS, OCBC, UOB dan Mitsubishi UFJ.

Pada Januari, Thailand mengumumkan rencana penghapusan dua PLTU batu bara utama yaitu 800 MW Krabi dan 2.200 MW Thepa karena penolakan masyarakat.

Sebagai gantinya, Thailand membuat poros utama menuju energi bersih, menguraikan berbagai rencana seperti 2.700 MW surya apung yang akan ditenderkan.

Di Vietnam sudah membangun pembangkit listrik tenaga surya enam tahun lebih awal dan 93 persen Build-Operate-Transfer PLTU batu bara di negara itu tertunda.

Sementara itu, pasar impor batu bara tradisional seperti Thailand dan Taiwan secara jelas telah menjauh dari batu bara, ujar Nace.

“Meskipun ada beberapa pembangkit batu bara baru yang akan mulai dibangun di Vietnam dan Indonesia, namun mereka sudah menyadari bahwa energi terbarukan akan menggerakkan perekonomian,” ujar dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA