Nilai ekspor Filipina melemah pada Februari

Pemerintah Filipina berupaya mempererat hubungan dengan mitra dagang untuk menghadapi “persaingan di pasar ekspor global"

Nilai ekspor Filipina melemah pada Februari

JAKARTA

Otoritas Statistik Filipina mengungkapkan nilai ekspor negara itu terus melemah pada Februari seiring menurunnya penjualan lima produk utama, lansir Philstar.

Catatan PSA, dari total nilai perdagangan eksternal Filipina, USD5,18 miliar (39,4 persen) di antaranya adalah barang ekspor dan USD7,97 miliar (60,6 persen) lainnya adalah impor.

Ekspor berkontraksi 0,9 persen pada Februari lalu dari USD5,23 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Berkurangnya permintaan komponen logam, emas, mesin dan peralatan transportasi, juga barang-barang manufaktur dan set kabel berkontribusi terhadap penurunan pengiriman barang ke luar negeri.

Sementara impor tercatat tumbuh 2,6 persen pada Februari, naik dari USD7,76 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ini disebabkan oleh terus meningkatnya impor bahan baku, barang setengah jadi dan barang modal.

Pelemahan nilai ekspor ini mengakibatkan defisit perdagangan meningkat dari tahun ke tahun, dari USD2,54 miliar pada Februari 2018 menjadi USD2,79 miliar periode kali ini.

AS, Jepang dan China menjadi tujuan utama ekspor Filipina pada Februari 2019, sementara China, Jepang dan Korea menjadi sumber impor utama.

Otoritas Ekonomi dan Pembangunan Nasional (NEDA) mengatakan pemerintah berupaya mempererat hubungan dengan mitra dagang untuk menghadapi “persaingan di pasar ekspor global".

“Dalam upaya memperkuat hubungan ekonomi bilateral, Departemen Perdagangan dan Industri baru-baru ini menyimpulkan dialog dengan Inggris, Hongaria dan Republik Ceko,” kata pejabat NEDA, Adoracion Navarro.

Filipina, kata dia, juga meneken nota kesepahaman dengan Indonesia untuk membuka pasar produk pertanian, terutama pisang dan produk turunan kelapa.

Mayoritas ekspor produk pertanian Filipina bertujuan ke Eropa Timur, setelah misi promosi yang digelar Departemen Pertanian dan perwakilan sektor swasta di Belarus, ujar Navarro.

“Untuk pemulihan kinerja ekspor, penting memfasilitasi pergerakan barang yang lebih mudah,” kata dia.

Navarro juga mengatakan upaya optimalisasi penggunaan pelabuhan utama Filipina di Batangas dan Subic.

Juga penyederhanaan kepabeanan untuk mempermudah pergerakan barang, kata dia.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA