Meneropong kondisi perekonomian Indonesia jelang pemilihan presiden

Investor menilai Indonesia memiliki modal sosial yang baik dalam menyelesaikan kontestasi politik dengan damai dan aman tanpa pertumpahan darah

Meneropong kondisi perekonomian Indonesia jelang pemilihan presiden

JAKARTA 

Pemilihan umum serentak untuk memilih presiden dan anggota legislatif DPR, DPRD, dan DPD baru akan berlangsung pada 17 April mendatang.

Meskipun iklim perpolitikan mulai memanas, namun kondisi ini tidak terlalu banyak berpengaruh pada perekonomian.

Sejumlah ekonom dan juga investor yang menganggap Indonesia sudah matang dalam berpolitik dengan telah terselenggaranya banyak pemilihan umum baik pusat dan daerah sejak era reformasi yang berlangsung aman dan damai.

Anggapan para ekonom dan investor ini sejalan dengan pernyataan dari Panel Ahli Katadata Insight Center (KIC) Wahyu Prasetyawan yang mengatakan dalam survei kinerja pemerintah di mata investor, pada triwulan I tahun ini 36 persen investor menaruh perhatian besar terhadap kondisi politik dalam negeri.

Dia mengatakan 36 persen investor menganggap politik dalam negeri sebagai faktor risiko terbesar. Angka ini meningkat dari triwulan sebelumnya dengan 26 persen investor yang menganggap politik dalam negeri adalah faktor risiko yang paling dicermati.

“Meski jadi perhatian, tetapi investor menganggap kondisi politik saat ini stabil,” ujar Wahyu dalam diskusi di Jakarta, Kamis.

Dalam survei tersebut menunjukkan bahwa 67,1 persen investor menilai kondisi politik di dalam negeri masih stabil. 18,8 persen menilai netral, dan 14,1 persen menganggap politik dalam negeri tidak stabil.

Wahyu mengatakan survei tersebut dilakukan terhadap 255 responden investor institusi manajemen investasi, dana pensiun, dan asuransi yang mengelola dana lebih dari Rp700 triliun.

“Untuk tiga bulan ke depan, 68,2 persen investor menilai kondisi politik dalam negeri akan semakin stabil. Yang menilai tidak stabil berkurang menjadi 9 persen,” urai Wahyu.

Dia menilai Indonesia memiliki modal sosial yang baik dalam menyelesaikan kontestasi politik dengan damai dan aman tanpa pertumpahan darah.

“Kondisi ini yang ditangkap sangat baik oleh investor,” tambah dia.

Wahyu juga menjelaskan 50,6 persen investor mengaku tidak khawatir akan ada perubahan kebijakan ekonomi yang drastis setelah pemilihan presiden nanti, siapa pun yang memenangi pemilihan.

Sebesar 31 persen investor memilih netral, dan hanya 18,4 persen investor yang mengaku khawatir ada perubahan drastis dalam kebijakan.

Kepercayaan investor ke pemerintah masih baik

Dalam survei tersebut, Wahyu mengatakan investor memiliki kepercayaan yang baik kepada pemerintah dengan indeks kepercayaan investor kepada pemerintah (IKIP) pada triwulan I tahun ini sebesar 172,1 meningkat dari triwulan IV 2018 dengan indeks 156,2.

“Kepercayaan terbesar investor berada pada komponen menyediakan dan merawat infrastruktur dengan indeks 184,7 pada triwulan I 2019, naik dari 173,8 pada triwulan sebelumnya,” jelas Wahyu.

Selain itu, indeks kepercayaan investor terhadap pemerintah pada komponen menciptakan suasana aman dan tenteram juga meningkat dari 166,9 menjadi 182,7 dan pada komponen menjaga inflasi juga meningkat dari 161 menjadi 174,1.

Wahyu juga mengatakan indeks pada komponen pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja pada triwulan I tahun ini juga meningkat dari 152,3 menjadi 174,1, begitu pun pada komponen memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan naik dari 126,7 menjadi 144,7.

Investor makin optimistis terhadap kondisi perekonomian dan pasar modal

Panel Ahli Katadata Insight Center Damhuri Nasution mengatakan Katadata Investor Confidence Index (KICI) menunjukkan pada triwulan I tahun ini mayoritas investor memberikan penilaian yang optimis terhadap kondisi perekonomian dan pasar modal secara umum dengan indeks 149,6.

Indeks ini meningkat dari triwulan IV tahun 2018 dengan angka 139,1. Menurut Damhuri, peningkatan ini ditopang oleh membaiknya penilaian responden terhadap kondisi saat ini dengan indeks 152,5 dan indeks ekspektasi ke depan sebesar 147,8.

Damhuri mengatakan opmtimisme investor sejalan dengan menurunnya peluang kenaikan suku bunga the Fed dan suku bunga obligasi pemerintah AS karena adanya penurunan kinerja ekonomi AS.

“Selain itu, ada optimisme terhadap perundingan dagang antara AS dan China,” lanjut dia.

Dia menambahkan kedua hal tersebut disambut positif pelaku pasar yang tercermin pada membaiknya penilaian investor terhadap kondisi pasar saham secara umum dengan indeks 145,9.

Damhuri menilai meredanya potensi kenaikan suku bunga the Fed dan dampak positif dari perundingan dagang AS dan China dianggap investor akan membawa dampak positif bagi stabilisasi rupiah.

Dia juga menilai pemilu kali ini tidak akan berdampak negatif pada nilai tukar serta kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Setiap tahun politik tidak pernah terjadi IHSG turun dibanding tahun sebelumnya, kecuali pada tahun 2004 saat pertama kali Indonesia memilih presiden secara langsung,” jelas Damhuri.

Dia mengatakan pada tahun 2004 IHSG dan rupiah sempat melemah jelang pilpres karena ada kekhawatiran investor terkait kondisi politik saat itu.

Kemudian, saat putaran pertama pilpres selesai, IHSG dan rupiah kembali menguat karena pemilu berjalan lancar dan damai, tidak seperti yang dikhawatirkan.

“Saya tidak melihat ada yang perlu dikhawatirkan terkait pemilu terhadap IHSG dan rupiah, terlepas siapa pun yang menang,” tegas Damhuri.

Damhuri menambahkan dalam Katadata Investor Confidence Index (KICI) terlihat bahwa sebagian besar investor dengan persentase 61,2 persen menilai level IHSG saat ini sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Kemudian 12,5 persen menilai IHSG terlalu mahal, dan 26,3 persen menilai terlalu murah. Saat ini, IHSG berada pada kisaran 6.400.

“Kondisi ini memungkinkan IHSG akan bullish karena lebih banyak yang menilai IHSG terlalu murah dibanding yang menganggap terlalu mahal,” tambah dia.

Rupiah mungkin menguat setelah pemilu

Analis Global Market Bank Mega James Evan Tumbuan mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa ada kemungkinan rupiah mengalami penguatan setelah pemilihan umum 17 April mendatang.

Menurut dia, rupiah masih akan berada pada level Rp14.000 hingga Rp14.250 per USD menjelang pilpres pada bulan ini.

“Mungkin setelah election jika keluar hasilnya, ada potensi penguatan ke Rp13900-an,” jelas dia.

Evan menambahkan berdasarkan survei Bloomberg, rupiah menjadi mata uang yang diminati kedua setelah Brazilian Real di market selama triwulan I tahun ini.

“Selain itu, obligasi pemerintah kita juga menjadi obligasi pemerintah yang paling diminati setelah China dan semua negara berkembang lainya,” lanjut dia.

Menurut Evan, apabila pemilu berlangsung dengan kondisi damai dan aman, maka akan semakin banyak lagi aliran modal yang masuk melalui obligasi dan akan memperkuat kondisi rupiah.

“Range dari BI rupiah berada di kisaran Rp13.800 hingga Rp14.000 per USD. Kalau obligasi menguat, rupiah juga akan menguat,” tambah Evan.

Sementara itu, Evan menjelaskan jelang pilpres akan ada aksi risk off dari investor sehingga IHSG diperkirakan akan berada pada level 6.390 hingga 6.510.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA