Konsep hunian bersama jadi potensi bisnis properti di Indonesia

Potensi tersebut terlihat dari belum banyaknya jumlah pekerja kelas menengah yang tinggal di tengah kota, karena pengembang hunian sewa di tengah kota masih menyasar kelas menengah atas

Konsep hunian bersama jadi potensi bisnis properti di Indonesia

Pengembangan properti berkonsep hunian bersama atau co-living mulai dikenal di Indonesia dan menjadi salah satu potensi bisnis baru.

Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto mengatakan konsep hunian dengan fasilitas komprehensif, harga terjangkau, dan lokasi strategis, seperti co-living semakin banyak diminati masyarakat urban.

Namun, saat ini belum banyak pengembang atau pengelola yang membuat konsep properti seperti co-living.

Ferry mengungkapkan konsep ini mirip seperti kos-kosan dengan fasilitas umum dapat dipakai bersama. Dan peluang bisnis ini dapat dimanfaatkan oleh para pengembang dan pengelola dalam mengembangkan bisnisnya.

“Kebutuhan orang untuk sewa hunian yang terjangkau dan lokasi strategis masih sangat besar, sementara pasokannya belum banyak. Saya lihat potensi ini cukup baik bagi pengembang dan pengelola yang ingin bermain di bisnis ini,” terang Ferry, kepada Anadolu Agency, Selasa.

Dia mengatakan potensi tersebut terlihat dari belum banyaknya jumlah pekerja kelas menengah yang tinggal di tengah kota, karena kebanyakan pengembang apartemen atau hunian sewa di tengah kota masih menyasar kelas memengah atas.

Sementara, kelas menengah bawah lebih memilih hunian berupa kos-kosan.

Ferry menilai kos-kosan yang ada saat ini konsepnya belum sesuai harapan para pekerja karena hanya menyediakan layanan terbatas dengan konsep hunian yang tidak jelas.

“Dari sisi bangunan, ada pengelola yang mengklaim properti yang dikelolanya itu co-living, tapi konsepnya masih kayak apartemen biasa, belum ada sesuatu yang mencirikan kalau itu co-living,” beber dia.

Oleh karena itu, potensi dan peluang bisnis untuk menciptakan hunian co-living masih terbuka lebar.

Dia menjelaskan pengembangan co-living opsinya bisa bermacam-macam, seperti developer yang bangun, terus menjual ke investor untuk disewakan. Atau developer mendirikan satu bangunan untuk co-living lalu dikelolanya sendiri.

“Bisa juga bangunan co-living dibangun terus ditawarkan ke operator untuk pengelolaan. Potensi bisnisnya besar, dan bisnis co-living biasanya hidup dari penyewaan,” terang Ferry.

Tidak hanya itu, Ferry menjelaskan apabila ada konsep hunian seperti apartemen yang ukurannya bisa diperkecil dan dibentuk co-living dengan harga mendekati kos-kosan, akan banyak peminatnya. Hunian yang lebih rapih juga bonafit, bisa lebih laku dibandingkan kos-kosan biasa.

“Properti yang harus digerakkan itu yang bisa menjangkau end user dan bisa diterima soal harga, konsep dan lokasi seperti co-living ini. Investor bisa masuk ke segmen bisnis ini karena punya potensi yang sangat besar, dan pemainnya juga belum banyak,” tegas dia.

Salah satu pemain bisnis co-living dengan harga terjangkau yang ada saat ini adalah PT Hoppor International atau yang lebih dikenal dengan nama Kamar Keluarga.

CEO Kamar Keluarga Charles Kwok mengatakan pihaknya telah melihat potensi ini sejak beberapa tahun lalu dan dia melihat banyak masyarakat yang menginginkan hunian dengan konsep co-living.

Saat ini kamar yang dimiliki Kamar Keluarga ada sebanyak 2.041 di 75 lokasi strategis dan gampang diakses oleh transportasi umum yang berada di Jabodetabek dan Bandung.

“Kami memanfaatkan teknologi berbasis web dan aplikasi untuk memberikan fasilitas dan pelayanan, sehingga seluruh kebutuhan pelanggan dapat terpenuhi hanya dengan telepon genggam saja,” kata Charles.


TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA