Kawasan Ekonomi Khusus Sorong resmi beroperasi

KEK Sorong akan mendongkrak perekonomian Kabupaten Sorong, Papua Barat, dengan proyeksi peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sekitar Rp10,64 triliun pada 2030

Kawasan Ekonomi Khusus Sorong resmi beroperasi

Pemerintah meresmikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sorong yang terletak di Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat, melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 31 Tahun 2016 tentang KEK ini beroperasi di atas lahan seluas 523,7 hektare.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan kegiatan utama di KEK Sorong meliputi industri pengolahan nikel, pengolahan kelapa sawit, hasil hutan dan perkebunan (sagu), serta pembangunan pergudangan logistik.

“KEK Sorong diproyeksikan akan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 15.024 orang,” jelas Menko Darmin dalam keterangan resmi, Jumat.

Menurut dia, dari sisi infrastruktur selama tiga tahun terakhir, Kementerian Pekerjaaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah membangun akses jalan utama beserta saluran drainase sepanjang 3,5 km dan jalan lingkungan sepanjang 6,5 km.

Selain itu, juga telah terbangun Pembangkit Listrik Mesin Gas (PLTMG), yakni PLTMG Waymon, PLTMG Arar, dan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) PT PLN untuk memasok kebutuhan listrik di kawasan Sorong Raya, sehingga saat ini telah tersedia Daya Mampu sebesar 46 MW dengan cadangan sebesar 9 MW.

Dalam jangka pendek, kebutuhan air bersih untuk Pelabuhan Arar dan industri yang telah berdiri akan menggunakan sumur bor dengan kapasitas 5 liter/detik dan Penampung Air Hujan (PAH).

Sementara untuk jangka panjang akan dibangun Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang menggunakan sumber air dari Sungai Klasafet (Klamono) dengan kapasitas 500 liter/detik.

Dia menjelaskan sampai saat ini, investor yang bergabung dalam KEK Sorong antara lain adalah PT Semen Gresik (Semen Indonesia Group) untuk membangun pabrik pengemasan semen, PT Henrison Inti Putra untuk membangun pabrik pengolahan kayu dan sawit, dan PT Bumi Sarana Utama (Kalla Group) untuk membangun storage aspal curah.

Sedangkan investor lain yang akan masuk yaitu PT Gag Nikel (untuk pembangunan smelter nikel), PT Pelindo IV (untuk pengembangan Pelabuhan Arar sebagai sarana konektivitas dan logistik), PT Numarin Terra Anugerah (untuk pembangunan cold storage perikanan), serta PT Power Gen (untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas/PLTMG sebesar 20 MW).

Menko Darmin mengungkapkan bahwa dengan potensi yang dimilikinya, KEK Sorong berpeluang menjadi salah satu pilar ketahanan pangan nasional, khususnya protein berbasis kelautan sehingga akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di pesisir Papua.

“Untuk makin menyukseskan keberadaan KEK Sorong, diperlukan keterlibatan aktif dari masyarakat setempat sehingga mereka harus dipersiapkan dari sisi pengetahuan, keterampilan (skill), serta kelembagaan ekonominya, supaya ke depannya dapat menjadi sumber daya manusia (SDM) yang lebih mumpuni,” imbuh dia.

Sementara itu, Gubernur Papua Barat Dominggus Mandacan mengatakan pembangunan KEK Sorong telah tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2017-2022.

Hal ini untuk meningkatkan perekonomian daerah dengan didukung pemanfaatan sumber daya lokal lintas sektor sehingga mampu mengurangi kesenjangan antar wilayah.

Menurut dia, pembangunan kawasan KEK Sorong diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp2,3 triliun, dan sekarang telah menghabiskan anggaran sebesar Rp487 miliar.

“Ke depannya ditargetkan akan dapat menarik investasi sampai Rp32,5 triliun,” lanjut Dominggus.

KEK Sorong juga akan mendongkrak perekonomian Kabupaten Sorong dengan proyeksi peningkatan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sekitar Rp10,64 triliun pada 2030.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA