Indonesia klaim komitmen investasi Jepang capai Rp40 triliun

Komitmen investasi ini menjadi kabar baik yang diharapkan dapat terealisasi dengan cepat sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri

Indonesia klaim komitmen investasi Jepang capai Rp40 triliun

Kementerian Perindustrian mengungkapkan sejumlah pelaku industri skala besar di Jepang akan membawa uangnya masuk ke Indonesia hingga Rp40 triliun hingga tahun 2023.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan komitmen investasi ini menjadi kabar baik yang diharapkan dapat terealisasi dengan cepat sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat struktur manufaktur di dalam negeri.

“Kami sampaikan bahwa secara garis besar dari hasil pertemuan dengan pelaku industri di Jepang sangat produktif. Sudah ada beberapa komitmen untuk investasi baru dan pengembangan (ekspansi),” kata Menteri Agus dalam keterangan resmi, Selasa.

Menteri Agus telah melakukan one on one meeting secara maraton dengan delapan korporasi asal Jepang di Tokyo pada hari Senin antara lain Nippon Steel, Nippon Shokubai, AGC Inc, dan Toyota Group.

Menteri Agus menyampaikan Nippon Shokubai siap melakukan investasi baru sebesar USD200 juta untuk pabrik acrylic acid berkapasitas 100.000 metrik ton.

Saat ini, kapasitas produksi pabrik Nippon Shokubai sebesar 140.000 metrik ton sehingga pada November 2021 akan bertambah menjadi 240.000 metrik ton.

Selain itu, PT Asahimas Chemical, anak perusahaan AGC Inc. Jepang, akan menggelontorkan dananya senilai Rp1,3 triliun untuk ekspansi pabrik fase ketujuh di Cilegon Banten.

Menurut Menteri Agus, investasi tersebut untuk perluasan pabrik Polivinil Klorida (PVC) fase ketujuh dengan kapasitas 200.000 metrik ton per tahun yang ditargetkan rampung dan beroperasi pada semester I tahun 2021.

Menteri Agus juga menyampaikan Asahimas sempat mempertanyakan pasokan bahan baku untuk mendukung proses industrinya di Indonesia dan dia memastikan untuk menjaga kelancaran pasokan bahan baku untuk industri, termasuk kebutuhan garam.

“Soal keberlanjutan bahan baku garam, kami sudah berikan komitmen untuk hal itu. Jadi, berapapun yang dibutuhkan industri, itu akan kami berikan kemudahan. Dengan catatan, belum tersedia di dalam negeri,” ujar Menteri Agus.

Menteri Agus mengaku menyerap banyak masukan dari pelaku industri Jepang yang berminat investasi di Indonesia dan dia menilai tidak terlalu banyak yang mengganggu kegiatan investasi di Indonesia.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian, antara lain mengenai pasokan bahan baku, upah pekerja, dan regulasi.

TAMBAHKAN KOMENTAR
BERITA BERIKUTNYA